Monday, February 20, 2017

Sajak Malam

Selamat Malam.

Sudah lama tidak berkunjung.
Aku hanya sekedar mampir untuk mengisi kekosongan.
Dengan memberi sajak.

Kalian suka sajak?
Jika kalian suka, akupun sama.
Bagi seseorang yang tertarik dengan sajak, ia pasti bisa melihat sebuah keindahan dalam rentetan kata yang tersusun dalam sajak.

Aku bukan seseorang yang mahir dalam bersajak. Jadi, aku meminta salah satu temanku untuk membuat sajak yang kemudian kuhidangkan disini.
Authornya bernama Della. Seorang mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Ia cantik, dan juga teman yang baik. Sajak-sajak yang dibuatnya tak pernah tidak bagus. Jadilah aku mamintanya untuk membuat satu sajak yang bisa ku posting blog yang sudah penuh dengan jaring laba-laba ini.
Bacalah, barangkali kau suka :)


Tanpa Payung
Oleh : F N S M

Sebagian nada hujan sumbang
Disambar petir, menghilang
Ia menghibur diri dengan sebuah tembang
Agar tak semakin meradang

Lalu, sebagian kisah menggenang
Dengan airnya yang tenang
Namun sebagian menyisakan lubang
Yang kisahnya tak gamblang

Jejak kakinya harus tau kemana harus melepas tanda.


Bagaimana? Indah bukan?
Oh ya, kalau kalian punya akun instagram, jangan lupa melirik profilnya : @fnsm.del
Kalau kalian tertarik, boleh difollow. 
Kalau kalian suka, boleh didm.
Kalau kalian baik, boleh difollow, dilike, dan dikomen postingannya.
Terima Kasih.

Salam,
Penyajak Indonesia.

Friday, October 28, 2016

Apa Kabar Negerimu Wahai Pemuda?

"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 Pemuda, niscaya akan kuguncangkan Dunia" - Ir. Soekarno

Halo para pemuda! Masih ingat nama Negeri mu? Bagaimana kabar negerimu? Peduli kah kalian?
Jika para pahlawan yang telah tiada diberi kesempatan untuk hidup kembali, saya yakin pertanyaan itu akan terlontar dari mulut mereka. Lalu apa jawaban kita sebagai pemuda saat ini? Apa yang kita tahu tentang negeri kita sekarang ini? Apa peranmu wahai pemuda? Ingatkah? Mungkin ada beberapa pemuda yang masih sadar akan perannya untuk negeri. Namun hanya sebatas hitungan jari, dari seluruh pemuda yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sisanya? telah bungkam dan hilang terseret kemewahan zaman.

Pemuda adalah pewaris bangsa, pembawa perubahan. Kita yang akan memimpin negeri ini nantinya. Kita yang diandalkan untuk memajukan bangsa ini. Coba renungkan, setelah 71 tahun Indonesia merdeka, sudah sejauh apa kemajuan Indonesia? Pada nyatanya, negeri ini masih dikategorikan sebagai negara yang berkembang. Negara yang mengikuti negara maju. Mengkiblati budaya mereka dan melupakan budaya lokal. Menelantarkan budaya sendiri hingga di pungut negara lain. Miris. Hancur hati para pahlawan, menangis tiada henti di tempat peristirahatannya.

Seperti kata-kata Ir. Soekarno, ia percaya bahwa pemuda merupakan tumpuan majunya negeri ini. Namun dimana gerakan pemuda saat ini? Tidak pernah terlihat lagi. Kita begitu sibuk memuja perkembangan zaman. Persatuan dan kesatuan mulai pudar, Bhinneka Tunggal Ika mulai tak dikenal lagi, Pancasila hanya tinggal nama, Undang-undang Dasar hanya skenario tak terpakai. Bangunlah pemuda, sadarlah! Negeri mu membutuhkanmu. Jangan biarkan hanya bendera merah-putih yang berkibar. Jangan sia-siakan proklamasi kemerdekaan yang telah dibacakan 71 tahun silam. Jangan hancurkan pengorbanan para pahlawan yang rela mati demi keamanan kita saat ini. Ingat kembali peristiwa tahun 1928, 1945, 1966, 1978 dan 1998. Rasakan penderitaan dan semangat pemuda ketika itu.

Jangan lupakan negeri ini. Tanah tempatmu memijakkan kaki, tempatmu tinggal, tempatmu bertemu orang-orang tercinta. Setidaknya, berbalas-budilah. Jadilah pemuda yang berguna untuk bangsa. Tunjukkan karyamu wahai pemuda. Hadirkan kembali persatuan dan kesatuan. Wujudkan cita-cita bangsa seperti yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yang masih menjadi angan. Hanya harapan yang disemogakan para pendahulu. Ingat sumpahmu wahai pemuda! Harapan Indonesia mengalir dalam darahmu.

SOEMPAH PEMOEDA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Malang, 28 Oktober 2016
Tertanda,
Pemuda Pemudi Indonesia.

Tuesday, April 19, 2016

Entahlah

Hati yang sesak penuh rasa gundah dan rindu. Apa namanya?
Hati yang senang dan bahagia bagai bunga yang merekah di musim semi. Apa namanya?
Jantung yang berdebar tak menentu ketika berdampingan. Apa namanya?
Hati yang sakit seketika jikalau ada yang berbeda. Apa namanya?
Pikiran yang kacau memikirkan sesuatu yang tak pasti. Apa namanya?
Rasa tidak rela yang terselip di hati saat kehilangan. Apa namanya?
Air mata yang jatuh ketika hati disakiti. Apa namanya?
Merasa ada yang hilang ketika tak lagi bersama. Apa namanya?
Memilih bertahan setelah dikhianati. Apa namanya?
Menyesal ketika kata hati tak terpenuhi. Apa namanya?
Tersiksa ketika rindu tak tersampaikan. Apa namanya?
Rasa khawatir yang muncul ketika mendengar kabar yang tak ingin didengar. Apa namanya?

Semua perasaan itu apa namanya?
Suka? Sayang? Butuh? Atau cinta?
Mungkin semacam itu.

New Normal, Tetap Update Covid-19 dengan Kumparan :)

"Hal yang paling ditunggu manusia adalah kabar." Begitu kata dosen saya saat tengah mengampu mata kuliah Jurnalistik. Tidak da...