Sunday, March 12, 2017

Malam di Yogyakarta

Malioboro memang tak pernah sepi. Keadaan ini persis seperti yang terakhir kali kulihat dua tahun silam. Keramaiannya tak berkurang. Seakan-akan setiap orang sengaja mengunjungi tempat ini setiap malam. Tentu saja dengan tujuan yang berbeda-beda. Mungkin banyak di antara mereka yang kemari untuk membangkitkan kenangan.atau mungkin beberapa ingin mengulang momen indah bersama orang terkasih. Atau barangkali sisanya ingin menghapus jejak langkah di masa lalu. Seperti aku.

Setiap langkah yang kuambil diikuti oleh hembusan angin.  Bersatu padu dengan suara para pedagang yang sedang merayu. Mereka mengundang para pejalan kaki untuk mampir ke kedai atau toko mereka. Beberapa tergoda dengan rayuan itu, kemudian menyisihkan waktu untuk melihat dan membeli. Sedangkan sisanya, tidak goyah dan terus melangkah tanpa tujuan. Seperti aku.

Aku tak menghiraukan apa yang ada di sepanjang jalan. Tak pula menggiring kemana aku akan pergi. Bukan lagi pikiran yang menuntun kaki ini bergerak, namun nurani. Hingga tak sadar, langkahku telah melenyapkan suara para pedagang yang terkenal merayu itu. Berganti dengan suara lintasan kendaraan yang berlalu lalang dari arah berlawanan. Mataku masih menangkap beberapa pedagang kaki lima yang kini jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka menepi pada pinggiran tembok pagar yang membatasi wilayah area dilarang masuk. Disitulah langkahku terhenti.

Kupandangi apa yang ada didepanku saat ini. Sebuah Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berkilau dengan cahaya lampu. Membuatnya mencolok diantara gelapnya langit malam. Aku melangkah lagi untuk lebih dekat dengan pagar pembatas. Monumen ini masih belum berubah. Bentuknya masih sama seperti dua tahun yang lalu.

“Raya.” Suara yang tak asing menyebut namaku. Kualihkan pandanganku pada sumber suara itu. seorang lelaki bertubuh tinggi , tengah berdiri 10 meter dari hadapanku. Ia melambaikan tangan kanannya dengan wajah yang ceria. Aku tersenyum. Ternyata tak berubah, aku masih saja tersenyum tiap kali melihat wajahnya.

“Mas Latif.” Suaraku terdengar parau. Dari tempatku berdiri sekarang, aku bisa melihat tubuhku berlari menuju lelaki itu, menghamburkan diri dalam pelukannya yang hangat. Melepas sesuatu yang oleh banyak orang disebut sebagai ‘rindu’.

Aku menghampiri keduanya, menatap diriku yang rapuh dalam pelukan Mas Latif. Hatiku tersiksa dan terbuai dalam waktu yang bersamaan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Mas Latif pada diriku. Ia perlahan melepas pelukannya yang begitu hangat. Memaksa menjauhkan tubuhku agar wajahku bisa ditatapnya.

“Aku tak pernah baik-baik saja selama masih memendam rindu.” Jawabku padanya. Kedua matanya menatapku dalam-dalam. Ia tersenyum, mewakilinya berkata 'aku juga rindu'. Ia merefleksikan perasaannya pada ekspresi yang ia tunjukkan. Sekarang ini, aku bisa menyaksikan dua senyum penuh arti. Dua senyum yang melambangkan perasaan terdalam dari masing-masing hati. Ya, aku bisa melihatnya.

“Terima kasih sudah menungguku, Raya.” Ucap Mas Latif. Kemudian ia menawarkan diri untuk mengantarku pulang ke rumah karena hari sudah malam. Pertemuan singkat tersebut setidaknya telah membayar rindu yang sudah cukup lama dipendam. Mereka mulai menjauh dari hadapanku. Langkah keduanya sejajar dan beriringan. Dunia seakan tak berisi apa-apa, kecuali mereka berdua. Matanya saling bertautan, menatap wajah satu sama lain. Membicarakan topik sederhana yang bisa menerbitkan senyum indah di wajah keduanya. Sesekali mereka tertunduk malu, mungkin karena sadar bahwa wajah mereka tengah merona. Hingga bayangan indah itu semakin jauh dari pandanganku. Obrolan mereka sudah tak sampai lagi kudengar. Mereka menghilang.

Itu diriku dan Mas Latif dua tahun silam. Tahun dimana kami masih bersama, menghabiskan waktu dengan kasih dan rindu, di tempat ini. Sebelum akhirnya Mas Latif memilih mundur dan pergi. Meghapus semua kenangan yang ada diantara kami ketika aku masih bisa mengingat semuanya dengan jelas. Perasaan itu, senyuman itu, tatapan itu, pelukan itu. Semua tentang Mas Latif.

Malam ini, di Yogyakarta, aku berhasil menghapus satu lagi jejak kaki di masa lalu. Menggantinya dengan langkah yang baru. Aku tidak merasa ini tidak adil. Bukan salah Mas Latif jika aku masih terperangkap oleh perasaan yang sama seperti dua tahun lalu. Dan bukan salahku juga karena tidak bisa menghapusnya secepat yang Mas Latif lakukan. Ini semua tentang waktu. Mungkin aku butuh lebih banyak waktu untuk menghapus itu semua.

Tapi sebelum itu terjadi, Bolehkah sekali ini aku mengatakan kalimat itu lagi?


Mas Latif, aku rindu.

Oleh : F.Riyani

Monday, February 20, 2017

Sajak Malam

Selamat Malam.

Sudah lama tidak berkunjung.
Aku hanya sekedar mampir untuk mengisi kekosongan.
Dengan memberi sajak.

Kalian suka sajak?
Jika kalian suka, akupun sama.
Bagi seseorang yang tertarik dengan sajak, ia pasti bisa melihat sebuah keindahan dalam rentetan kata yang tersusun dalam sajak.

Aku bukan seseorang yang mahir dalam bersajak. Jadi, aku meminta salah satu temanku untuk membuat sajak yang kemudian kuhidangkan disini.
Authornya bernama Della. Seorang mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Ia cantik, dan juga teman yang baik. Sajak-sajak yang dibuatnya tak pernah tidak bagus. Jadilah aku mamintanya untuk membuat satu sajak yang bisa ku posting blog yang sudah penuh dengan jaring laba-laba ini.
Bacalah, barangkali kau suka :)


Tanpa Payung
Oleh : F N S M

Sebagian nada hujan sumbang
Disambar petir, menghilang
Ia menghibur diri dengan sebuah tembang
Agar tak semakin meradang

Lalu, sebagian kisah menggenang
Dengan airnya yang tenang
Namun sebagian menyisakan lubang
Yang kisahnya tak gamblang

Jejak kakinya harus tau kemana harus melepas tanda.


Bagaimana? Indah bukan?
Oh ya, kalau kalian punya akun instagram, jangan lupa melirik profilnya : @fnsm.del
Kalau kalian tertarik, boleh difollow. 
Kalau kalian suka, boleh didm.
Kalau kalian baik, boleh difollow, dilike, dan dikomen postingannya.
Terima Kasih.

Salam,
Penyajak Indonesia.

Friday, October 28, 2016

Apa Kabar Negerimu Wahai Pemuda?

"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 Pemuda, niscaya akan kuguncangkan Dunia" - Ir. Soekarno

Halo para pemuda! Masih ingat nama Negeri mu? Bagaimana kabar negerimu? Peduli kah kalian?
Jika para pahlawan yang telah tiada diberi kesempatan untuk hidup kembali, saya yakin pertanyaan itu akan terlontar dari mulut mereka. Lalu apa jawaban kita sebagai pemuda saat ini? Apa yang kita tahu tentang negeri kita sekarang ini? Apa peranmu wahai pemuda? Ingatkah? Mungkin ada beberapa pemuda yang masih sadar akan perannya untuk negeri. Namun hanya sebatas hitungan jari, dari seluruh pemuda yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sisanya? telah bungkam dan hilang terseret kemewahan zaman.

Pemuda adalah pewaris bangsa, pembawa perubahan. Kita yang akan memimpin negeri ini nantinya. Kita yang diandalkan untuk memajukan bangsa ini. Coba renungkan, setelah 71 tahun Indonesia merdeka, sudah sejauh apa kemajuan Indonesia? Pada nyatanya, negeri ini masih dikategorikan sebagai negara yang berkembang. Negara yang mengikuti negara maju. Mengkiblati budaya mereka dan melupakan budaya lokal. Menelantarkan budaya sendiri hingga di pungut negara lain. Miris. Hancur hati para pahlawan, menangis tiada henti di tempat peristirahatannya.

Seperti kata-kata Ir. Soekarno, ia percaya bahwa pemuda merupakan tumpuan majunya negeri ini. Namun dimana gerakan pemuda saat ini? Tidak pernah terlihat lagi. Kita begitu sibuk memuja perkembangan zaman. Persatuan dan kesatuan mulai pudar, Bhinneka Tunggal Ika mulai tak dikenal lagi, Pancasila hanya tinggal nama, Undang-undang Dasar hanya skenario tak terpakai. Bangunlah pemuda, sadarlah! Negeri mu membutuhkanmu. Jangan biarkan hanya bendera merah-putih yang berkibar. Jangan sia-siakan proklamasi kemerdekaan yang telah dibacakan 71 tahun silam. Jangan hancurkan pengorbanan para pahlawan yang rela mati demi keamanan kita saat ini. Ingat kembali peristiwa tahun 1928, 1945, 1966, 1978 dan 1998. Rasakan penderitaan dan semangat pemuda ketika itu.

Jangan lupakan negeri ini. Tanah tempatmu memijakkan kaki, tempatmu tinggal, tempatmu bertemu orang-orang tercinta. Setidaknya, berbalas-budilah. Jadilah pemuda yang berguna untuk bangsa. Tunjukkan karyamu wahai pemuda. Hadirkan kembali persatuan dan kesatuan. Wujudkan cita-cita bangsa seperti yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yang masih menjadi angan. Hanya harapan yang disemogakan para pendahulu. Ingat sumpahmu wahai pemuda! Harapan Indonesia mengalir dalam darahmu.

SOEMPAH PEMOEDA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Malang, 28 Oktober 2016
Tertanda,
Pemuda Pemudi Indonesia.

New Normal, Tetap Update Covid-19 dengan Kumparan :)

"Hal yang paling ditunggu manusia adalah kabar." Begitu kata dosen saya saat tengah mengampu mata kuliah Jurnalistik. Tidak da...