Sunday, March 4, 2018

Dari "Black Panther" sampe "Yowis Ben" - Apa Kata Feli #1

Ayo yang udah nonton Black Panther mana suaranya?

Oke, ini konten perdana tag #ApaKataFeli. Disini gua mau sedikit review dan sharing aja pendapat gua setelah nonton film Black Panther yang katanya sekarang jadi #1 Movie in the world. Waw keren yaaa! Tapi emang gua akuin ini film keren banget!!

Film Black Panther ini bercerita tentang masyarakat Wakanda, sebuah fictional place yang masyarakatnya terlihat mengangkat budaya Afrika gitu. Nah ceritanya itu, T'Challa (si Black Panther) diangkat menjadi Raja Wakanda yang baru setelah kematin ayahnya di sequel the Avenger yang Captain America: Civil War. Tentunya menjadi seorang Raja pasti mengemban tugas yang sangat berat dong. Apalagi T'Challa sempet gak diterima sama salah satu suku, yaitu suku Jabari. Tapi akhirnya tetep jadi Raja kok wkwk. Belum lama bertahta, T'Challa udah dapet masalah baru. Salah satu perkakas Wakanda yang dimuseumkan dicuri sama sekelompok orang yang terobsesi sama kekayaan Wakanda, Vibranium (logam terkuat di dunia, di ceritanya sih gitu). Yang gak disangka-sangka, ternyata pencurinya itu adalah sepupunya sendiri (Killmonger). Ya gua gak mungkin nyeritain detailnya ya wkwk. Pokoknya intinya si sepupunya ini mau  merebut tahta T'Challa dan mengubah tradisi yang selama ini ada di Wakanda. 

Akibatnya, terjadilah  perang saudara. Nah ini nih, dari part ini gua dapetin sebuah pelajaran. Coba lu bayangin, sebuah suku yang tadinya begitu kompak, melindungi tanah tercinta, eh tau-tau pecah cuma gara-gara kedatangan satu orang yang punya misi berbeda. Kalo ditelaah nih ya, yang gua tau film-film perang zaman dulu itu pasti perangnya perang antar-negara atau antar-kerajaan atau antar-suku. Tapi di film Black Panther ini kita diperlihatkan sebuah perang saudara, perang satu suku. Penyebabnya cuma karena power, kekuasaan. Sedih coooy liatnya. Sebenernya sih ya, itu semua terjadi karena si Killmonger ini terobsesi buat memuaskan egonya sendiri. Dia merasa dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Kalo diliat berdasarkan teori psikologinya Sigmund Freud, Id si Killmonger terlalu mendominasi sehingga menutupi Superegonya. Alhasil, yang  berjalan cuma Id yang diwujudkan dengan Ego tanpa disetir dengan adanya Superego.

Di film, ceritanya Killmonger itu mau mengekspos semua kekayaan Wakanda yang berupa Vibranium kepada seluruh dunia. Dia berencana ingin menunjukkan pada dunia bahwa Wakanda tak patut untuk dilecehkan dan direndahkan. Dia ingin Wakanda menjadi pusat/power yang bisa menguasai dunia. Namun yang salah, si Killmonger ini bahkan belum mengerti budaya atau tradisi yang sudah melekat di Wakanda. Ia tidak peduli dengan nilai dan norma yang sudah ditanamkan oleh para leluhurnya karena selama ini ia tinggal di Amerika. Padahal harusnya, kalo menurut gua sih, sebelum kita terjun ke area yang lebih luas, kita harus punya jati diri terlebih dahulu. Harus punya identitas dan wawasan yang luas dulu, supaya gak ke seret arus budaya lain. Ibaratnya, sebelum diving, kita harus mempersiapkan diri dengan pake pakaian diving, pake tabung  pernapasan, pake kacamata renang. Itu semua untuk melindungi diri kita ketika menyelam ke habitat yang bukan habitat asal kita. Supaya kita gak mati tenggelam terus menyatu dengan laut. Supaya kita bisa menyelam dengan aman, mempelajari apa yang ada di dalam laut, kemudian kembali ke habitat asli dan mengeksplor hasil pengetahuan tanpa harus merubah habitat kita menjadi sama seperti laut. Konflik macam ini nih yang udah banyak terjadi di masyarakat zaman now.

Dan maap rada belok sedikit juga, dari film itu gua juga agak sadar akan sesuatu. Mungkin ini yang sedang terjadi di Indonesia, perang saudara. Belum lama ini gua liat video Bayu Skak yang  judulnya "Aku Wong Jowo". Video itu berisi tentang kekecewaan Bayu Skak atas orang-orang yang menindas hasil karyanya. Ya, kita tau Bayu Skak baru aja merilis film baru "Yowis Ben" yang 90% nya menggunakan bahasa Jawa. Mungkin ada beberapa orang berpikir, ih rasis amat pake bahasa Jawa, atau ah ogah nontonnya, gak ngerti. Kalo boleh diklarifikasi, bukannya justru orang-orang yang bilang begitu yang rasis? Masa gak boleh bikin film pake bahasa Daerah? Selama ini banyak tuh masyarakat yang nerima film produksi negara lain yang berbahasa Inggris, tapi kenapa giliran ada pribumi yang bikin film pake bahasa daerah dibilang rasis, di jatuhkan, dan diolok-olok? Toh filmnnya sama-sama ada subtitlenya. Kadang gua bingung aja sih, Bayu Skak ini kan tujuannya baik. Dia  mau bikin sebuah perubahan dengan mengangkat budayanya yang at least, budaya kita juga. Budaya Indonesia. Eh tapi malah dijatuhkan. Dibuat bahan yang memicu perpecahan, perang saudara. Meskipun emang itu mungkin konflik antar-suku, tapi ada hal penting yang harus diinget. KITA MASIH SATU BANGSA.

Apa salahnya sih mendukung saudara sendiri demi memajukan bangsa? Sekarang kalo karya orang lokal sendiri gak dihargain gimana kita mau maju? Kalaupun gak mau nonton filmnya, ya gausahlah pake mengolok-olok. Kita support dong saudara kita sendiri. Kalau perlu dicontoh. Bener kata Bayu Skak, barangkali dengan mengangkat film seperti itu kita jadi bisa mengetahui budaya Indonesia  yang beraneka ragam itu.  Coba kalau orang Sunda, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTT NTB, Madura, Banten dan lain-lainnya itu  punya inisiatif yang sama kayak  Bayu Skak, pasti budaya Indonesia sedikit demi sedikit akan terekspos. Bayangkan, kita semua dikit-dikit bakal ngerti budaya-budaya di negri kita sendiri. Kita akan jadi bangga. Kita punya cirikhas yang bisa kita tunjukin sama dunia. Liat film Black Panther, itu film mengangkat  derajat orang kulit hitam yang sempat dipandang sebelah mata oleh dunia. Sekarang orang-orang di dunia pun jadi tau betapa uniknya budaya Afrika karena diselipkan di film tersebut. Itu semua berkat dukungan dan respon positif  dari semua orang yang udah menghargai film itu.

Kita udah tertinggal sama yang lain.. Udah ada banyak negara maju, dan kita masih aja berkembang. Kita harus udah mulai berpikir gimana cara megejar ketertinggalan kita. Dan untuk mewujudkan itu semua, warga Indonesia harus bersatu. Saling dukung, saling support, saling menghargai, saling memotivasi dan termotivasi. Bukan malah saling menjatuhkan. Ada orang Indonesia yang berkarya, ya disupport. Apalagi buat orang semacam Bayu Skak yang masih sadar dan bangga akan budayanya. Toh itu bakal jadi kebanggaan bersama. Kalo di Black Panther bilang Wakanda forever, kita harus bilang Indonesia selamanya. Sekarang bukan waktunya lagi nunjukkin siapa suku terbesar di Indonesia, atau apa Agama terkuat di Indonesia. Tantangan dan lawan kita itu dunia, bukan sebangsa. Nah tapiii, sebelum kita menunjukkan pada dunia siapa Indonesia, ada baiknya kita mengenali dulu diri kita sendiri. Karena gak mungkin kan kita keluar tanpa identitas? :)

Maaf kalo pembahasannya gak nyambung dan kemana-mana. Tapi  kalo lo orang Indonesia, plis jangan judge gua. Lebih baik lo komen dan kasih masukan di kolom komentar. Karena begitulah seharusnya cara memperlakukan saudara kan? :)


Regards,

Author

Thursday, February 22, 2018

Jadi Anak Bahasa & Sastra - Dunia Anak Sastra #1

Sampe detik ini gua gak ngerti betul kenapa gua milih buat menjurus ke arah bahasa dan sastra. Semua terjadi begitu aja tanpa ada pemikiran yang matang untuk kedepannya. Alasan gua ya karna suka aja belajar bahasa. Dan alasan lainnya karna gua males mikir yang berat-berat. Tapi ternyata belajar bahasa dan sastra pun gak semudah yang dibayangkan. Jadi, disini gua bakal ceritain pengalaman gua sebagai seorang anak bahasa dan sastra.

Setelah diterima di jurusan bahasa dan sastra Inggris, gua seneng banget sih. Gua udah pede duluan dengan membayangkan kalau kuliah gua bakal santai dan enak. Tapi taunya, setelah kuliah selama hampir tiga tahun ini, gua baru sadar kalo gua salah coy. Ternyata gak segampang itu hiks.
Dan semenjak masuk ke jurusan itu, ada satu pertanyaan yang kadang bikin gua mikir berat "emang nanti setelah lulus bakal jadi apa?". Oke, andai kalian tau betapa galaunya gua dan temen-temen ketika mendapati pertanyaan macam itu. Karna ya emang kami gak punya bidang pekerjaan yang menjanjikan banget. Tapi meskipun begitu, ada satu pesan dari dosen gua yang selalu gua inget. Dan kata-kata beliau sukses jadi moodbooster tiap kali gua jatoh karna pusing mikir mau jadi apa nantinya.

"Kalian harusnya bangga jadi anak Bahasa. Karena semua ilmu itu bermula dari bahasa. Coba kalau gak ada bahasa, gabakal ada tuh materi IPA, Kedokteran, IPS, dll."

Bener kan? Semua orang bergantung pada bahasa. Bahasa itu bagian dari kehidupan. begitu juga dengan sastra. Jadi sekarang, gua gak minder lagi meskipun gua cuma seorang anak bahasa dan sastra. Mau jadi apapun nantinya, yang penting fokus belajar aja dulu. Dan satu hal yang bikin bahagia, ternyata dari jurusan pun kita ditawari beberapa mata kuliah profesi kayak Journalist, Tour Guide, Translator, dan ELT (keguruan). Lebih luas kan jangkauannya. Gak cuma terpaku sama satu bidang pekerjaan aja. Jadi kalo kalian udah masuk atau mau milih jurusan bahasa dan sastra, jangan takut bakal gak dapet pekerjaan cuma karena lulusan Bahasa dan Sastra. Semua balik lagi ke individunya masing-masing kok. Kalo serius dan ditekuni, insyaAllah pasti bermanfaat.

Oke, terus apa aja sih yang dipelajari di jurusan Bahasa dan Sastra itu? Well guys, kita belajar banyaaaak banget. Dan gua ngerasa kalo semua ilmu yang gua dapetin disini itu menarik. Gatau ya, kalo ditanya menyesal gak sih masuk bahasa dan sastra? Gua jawab engga sama sekali. Justru gua malah ngerasa beruntung dan bersyukur karena udah dikasih jurusan yang emang pas banget, sesuai sama kemampuan gua.

Jadi, kalo ngomongin soal materi dan mata kuliah, di awal perkuliahan gua masih dapet materi-materi dasar kayak Grammar, Writing, Speaking, Listening, dan Reading. Yaa kayak les b.Inggris gitu deh. Sisanya mata kuliah umum kayak Pkn, B.indonesia, Ilmu Alamiah Dasar dan beberapa mata kuliah agama karna kampus gua berbasis Islam. Setelah itu, di semester 3 barulah kita dapet matakuliah Introduction to Linguistics and Literature (pengenalan ilmu bahasa dan sastra). Gua sempet agak bingung juga sih apa yang bakal dipelajari di ilmu bahasa dan sastra. Ternyata kita bakal menelusuri segala aspek kebahasaan dan juga kesusastraan gitu. Kita bakal dapet matkul tentang tatanan bahasa mulai dari yang terkecil, terus juga sumber bahasa atau organ-organ tubuh yang berkaitan dengan produksi suara. Masalah, penyakit, atau syndrome yang berkaitan dengan bahasa. Terus juga belajar teori-teori sosial kayak sosiologi, psikologi, feminisme, marxisme untuk menganalisa karya sastra. Ah banyak deeeh.

Nah di semester 4, kita mulai belajar basic dari ilmu-ilmu itu. Kayak Morphology, Phonology, Basic analysis of prose & poetry, terus juga kita dapet matkul Filsafat ilmu. Pelajaran apaan tuh? InsyaAllah nanti akan gua bahas satu persatu di postingan berikutnya. Doain semoga gak lupa wkwk. Kemudian, di semester 5 kita diberi pilihan mau pilih konsentrasi apa, linguistics (kebahasaan) atau literature (kesusastraan). Apa bedanya? Kalo di linguistics kita bakal disuguhi materi-materi mendalam tentang kebahasaan, contohnya kayak sosiolinguistik, psikolinguistik, pragmatik, dan lain-lain. Nah kalo di yang literature kita lebih dikenalkan kepada teori-teori sosial yang tujuannya kita pake untuk menganalisa sebuah karya sastra. Mungkin nanti result dari linguistics itu bakal jadi pakar bahasa atau ahli bahasa, sedangkan literature mencetak para kritukus sastra bahkan untuk beberapa kasus ada juga yang jadi penulis. Gak cuma itu aja, kita juga diberi pilihan kelas profesi kayak yang udah gua sebutin di atas.

Karena kita dijejali banyak pengetahuan tentang bahasa (baik itu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi maupun bahasa dalam karya sastra), bisa dibilang kalau kita ini secara tidak langsung dilatih untuk menjadi seorang manusia yang peka, dan juga tau gimana cara berkomunikasi dengan baik dan benar. Kita diajarkan untuk menganalisa bahasa dari segi teks, konteks, maupun ideologi. Jadi, anak bahasa dan sastra bisa loh menganalisa seseorang lewat tutur bahasanya. Tuh kan kurang apalagi coba anak bahasa dan sastra? Wkwkwk. Oh iya, selain belajar tentang bahasa dan sastra, kita juga dikasih mata kuliah yang berkaitan dengan budaya loh, contohnya kayak sekarang nih di semester 6 ini gua dapet mata kuliah Cultural Studies (studi kebudayaan) dan Interculturality in Language and Literary Study. Asik pokoknya. Meskipun pusing juga kadang, tapi ilmu-ilmu itu bikin gua jadi bangga gitu bisa menyelam ke dalam dunia bahasa dan sastra.

Emang ya bener banget kata orang, milih sesuatu itu harus pake hati. Dan ngejalanin sesuatu juga harus pake hati. Karna kalo udah pake hati, gimanapun rintangannya pasti terlewati juga. Jadi seorang anak bahasa dan sastra ternyata gak semudah yang gua pikir. Tapi gimanapun sulitnya, karna gua suka, alhamdulillah gua bisa melewatinya dengan rasa senang. Mungkin sekarang ini gua masih gak tau dan gabisa mastiin bakal jadi apa setelah lulus nanti, tapi yang pasti gua tau kalo ilmu yang gua dapetin selama ini gak akan sia-sia. Pasti akan berguna suatu hari nanti. Jadi, jangan pernah memandang sebelah mata sebuah ilmu. Apapun itu, yang namanya ilmu pasti berguna. Kalo gak berguna bukan ilmu namanya.

Buat kalian-kalian yang mungkin bernasib mirip, minder sama jurusannya, atau ngerasa salah jurusan, jangan pesimis. Jalanin aja apa yang udah lu pilih dalam hidup lu. Seenggak suka apapun lu terhadap pilihan yang udah lu pilih, jangan nyerah gitu aja. Mungkin dibalik itu Tuhan punya rencana lain buat lu. Cukup jalanin pake hati yang disertai rasa ikhlas. Nikmatin prosesnya, karena hasil tidak akan pernah mengkhianati proses kan? :)

Regards,


Author.

Friday, December 1, 2017

Gimana Rasanya?

You know nothing until you, yourself, feel it.


Hai bertemu lagi di awal Desember. Maaf karena udah ngeskip November. Sebenernya November kemarin itu gua ada niatan buat ngisi blog sih. Tapi ternyata konsep tulisannya gak mateng gitu. Gak jadi deh hehe. Kebetulan, hari ini ada sesuatu yang mau gua bahas, jadiii gua putuskan buat ngeblog.

Kenapa di awal gua kasih quote macam itu? jadi begini ceritanya. Tadi siang sampe sore, gua ikut anak-anak PMII buat galang dana di perempatan ITN. Dana tersebut nantinya akan kita salurkan ke saudara-saudara kita di Pacitan yang lagi kena musibah saat ini. Jujur, gua baru kali ini ikutan aksi galang dana macam gitu. Dan sumpah, ternyata itu gak gampang brooo (ya maap, gua baru ngerasain sekarang ini wkwk). Ikut hal-hal semacam ini tuh kayak ngelatih mental diri sendiri. Kira-kira udah seberapa kuat sih lu ngadepin berbagai macam watak orang-orang di luar sana? Apa hati lu udah kebal ketika orang lain gak menghargai lu? Ah it's like something wow gitu. Dari sini gua tau gimana rasanya ditolak. Gimana rasanya dicuekin dan diabaikan. Gimana rasanya disinisin padahal lu udah berusaha masang tampang sok malaikat. Mantap.

Di tengah-tengah durasi lampu merah, gua sama temen-temen nyoba buat sok akrab minta bantuan buat saudara setanah air yang lagi kesusahan. Eeeh malah dapet beberapa prilaku orang yang bikin gaenak hati. Selama ini gua berpikir pekerjaan orang yang lagi galang dana atau yang lagi jadi sales bagi-bagiin brosur dan semacamnya itu ya gampang-gampang aja. Gua gak pernah sampe mikir mereka bakal sakit hati ketika ngeliat balesan dari orang-orang di jalan yang sama sekali gak mereka kenal. Ternyata mereka juga manusia, punya hati. Susah loh ternyata jadi mereka. Kalo dari apa yang gua rasain nih ya, jujur aja awalnya gengsi mau ngelakuin hal semacam itu. Minta-minta ke orang lain yang gak dikenal. Belum lagi kalo tau-tau ketemu temen sendiri. Takut dibully lah, takut dikatain lah, takut direndahkan lah. Jadi, mau gak mau harus menyingkirkan semua perasaan itu. Harus buang malu.

Mereka yang bekerja semacam itu harus membangun kepercayaan diri yang kuat. Keberanian yang kuat. Dan mental yang kuat juga. Tapi sayangnya, gak semua orang bisa ngehargain usaha mereka buat jadi berani. Dengan mudahnya, sikap gak enak yang datang dari beberapa orang menghancurkan semua yang udah mereka bangun di awal. Rasa pede ilang seketika cuma gara-gara tatapan sinis. Keberanian ilang karena diabaikan. Bahkan mental pun ciut ketika ada yang nolak dengan ekspresi paling menyebalkan sedunia. Mending-mending kalau nolaknya pake senyum, ini boro-boro senyum bahkan sekedar natap aja gak mau. Padahal kita juga gak bakal maksa mereka buat menyisihkan harta ke kotak kardus yang kita bawa. Agak ngeri gitu sih menurut gua. Coba bayangin, kita tanpa sengaja nyakitin hati orang yang belum tentu kita bakal ketemu lagi buat minta maaf. Duh jangankan minta maaf, kenal aja engga, tau namanya aja engga. Dan masih mending kalo orangnya pemaaf dan sabar. Lah kalo misal orangnya sakit hati dan dibawa sampe mati gimana? Nauzubillah. Tapi kita harus sadar juga, ada loh orang yang begitu.

Nah untuk kasus kayak begini, slogan "mencegah lebih baik daripada mengobati" ada benernya nih. Gak susah kan mencegah buat gak nyakitin orang lain? Soalnya mengobati hal yang kayak gini itu sulit. Seperti yang udah gua jelasin tadi, jangankan ketemu lagi, kenal juga engga. Dan kita gak ada yang tau, gimana perasaan orang lain atas sikap kita ke mereka. Kalo dari pengalaman gua dan temen-temen tadi, kita gak sakit hati kok setiap ada orang yang nolak dengan cara yang baik. Contohnya, senyum sambil bilang "maaf dulu". Kita masih ngerasa dihargai dengan sikap-sikap macam gitu. Sebenernya menolak itu gak salah kan, yang salah itu caranya. Kenapa nolaknya harus dengan tatapan sinis atau sikap diem seakan-akan kita tak kasat mata? Padahal penolakan dengan senyum pun kita hargai. Ini sih yang kadang kurang diaware sama orang lain. Respect each others. Katanya sesama manusia harus saling menghargai. Apa cuma katanya aja? wkwk.

Maaf kalo kata-kata di atas mengundang emosi. Gak ada maksud kok. Cuma kebawa sisa emosi tadi aja hahaha. Bercanda. Intinya sih, ayo coba kita berkaca pada diri masing-masing. Saling menghargai itu penting. Dalam hal sekecil apapun. Gua yakin setiap orang pasti mau dihargai. Nah untuk dihargai, kita juga harus belajar menghargai orang lain. Jangan cuma mau dihargai doang.
Gua langsung kepikiran aja sih dari kejadian hari ini. Kira-kira gua pernah gak ya tanpa sengaja bikin sakit hati orang-orang semacam itu yang bertemu sekilas di jalan? Karena ya jujur aja, gua jadi agak menyesal setelah tau ternyata gak gampang buat aksi semacam itu dengan resiko yang bisa menggores batin. Gak nyangka aja haha ternyata gua gak akan pernah tau sesuatu sampe gua ngerasain hal itu sendiri.

Sekian.
Sampai bertemu di postingan selanjutnya.

Regards.

New Normal, Tetap Update Covid-19 dengan Kumparan :)

"Hal yang paling ditunggu manusia adalah kabar." Begitu kata dosen saya saat tengah mengampu mata kuliah Jurnalistik. Tidak da...