Monday, August 20, 2018

Trip to Dolly - Internship Journey


Gue selalu penasaran, kira-kira apa yang ada dibenak lu ketika baca judul postingan ini?

Gue rasa lu semua udah pada tau kali Gang Dolly yang legendaris itu, ya kan? Gue sebenernya gak pernah sih nyari tau tentang Gang Dolly, baik itu seluk beluknya maupun proses penutupannya. Yang gue tau nih, dulu... yaaa gang dolly adalah tempat praktik prostitusi terkenal yang ada di Kota Surabaya. That's all.

Gang Dolly. Yang ini fotonya ambil dari Google.
soalnya gue moto tapi gak begitu keliatan luas gangnya.

Kebetulan banget, gue dapet internship di Surabaya. Dan jadi wartawan.
Tanpa disangka, projek terakhir internship gue malah disuruh meliput bagaimana keadaan Gang Dolly saat ini, setelah dilakukannya penutupan oleh Wali Kota Surabaya, Bu Tri Rismaharini pada 18 Juni 2014 silam. Jadi buat yang kemaren pada heboh komenin ig story gue,  tenang woy gue ke sono liputan kok wkwk.

Wah gila sih, excited banget lah gue! Kapan lagi bisa mengunjungi Gang Dolly yang katanya merupakan bekas tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara! Pasti seru dengerin cerita tempat ini dulunya gimana, dan bagaimana proses perubahannya. Aduh ngebayanginnya aja udah seruuu!! Untungnya hal-hal yang perlu digali sudah disiapkan dari instansi tempat gue magang. Jadi gue sama temen-temen tinggal pelajari kasusnya aja, dari mulai penutupan hingga sekarang. Terus menemui pihak-pihak yang berhubungan sama tema tulisan masing-masing deh.

Nah, hari pertama gue sampai di Gang Dolly, agak kaget sih. Gue pikir tempatnya bakal luas dan lebar. Ternyata ya bener-bener hanya satu gang gitu. Aseli, gang yang panjangnya paling cuma 50 meter itu jadi yang terbesar se-Asia Tenggara? WAW! Ya emang sih, jalannya lumayan lebar, terus juga ada beberapa gang kecil lagi di sebelah kanan-kiri. Gang yang kecil-kecil itu jalannya sempit. Gue rasa sih mobil susah masuk soalnya motor aja kalo papasan harus berenti dulu gantian lewat. Oh iya gang Dolly ini alamatnya di daerah Jarak, sekitaran kelurahan Putat Jaya. Kalo gak bener nama jalannya Jl. Kupang Gunung Timur 1. Sebenernya di daerah Jarak itu banyak tempat lokalisasinya. Cuma yang paling terkenal Gang Dolly, dan lokasinya di satu gang aja (kalau ke sana cari gang yang plangnya ada tulisan 'Dolly Saiki').

Di jalan utama Gang Dolly masih banyak bangunan bekas wisma-wisma tempat praktik prostitusi yang masih kosong. Meskipun udah dibeli sama Pemkot, tapi sampe sekarang pun bangunan-bangunan itu belum direnovasi ataupun dialih-fungsikan. Kalau gang-gang kecil di kanan-kirinya sih kebanyakan rumah warga. Dan ada satu gedung tinggi nan mencolok di jalan utamanya. Ternyata gedung itu bekas wisma Barbara, wisma terbesar yang menampung beribu PSK Dolly. Denger-denger dari cerita warga dan baca ulasan di internet, jadi dulu para PSKnya tuh dipajang di etalase/ruang kaca supaya yang beli bisa milih dengan sesuka hati. Gue sempet masuk ke wismanya tapi part ini nanti aja ceritanya wkwkw.

Sebagian tanah ada yang dijadikan kayak taman bermain anak sama lapangan futsal. Ramenya kalau sore, banyak anak-anak yang main di situ. Karena gue datengnya siang, jadi di sana agak sepi. Tapi beberapa warga terlihat lagi ngecat gapura-gapura gang kecil buat nyambut Agustusan. Kebetulan gue kebagian part wawancara warga, tapi takut ganggu kalau milih mereka yang pada lagi ngecat. Sebenernya pas pertama kali ke sana, gue bingung gitu gimana mau mulai percakapan dengan membahas Dolly sebelum ditutup. Takut kalau ternyata gue kebetulan dan gak sengaja wawancara psknya atau muchikarinya kan jadi gak enak.

Taman bermain yang ada di Gang Dolly.
Btw, itu gue sama salah satu temen gue ikut main bola wkwk.

Jadi kelompok gue ini terdiri dari 6 orang, 3 cewe 3 cowo. Tiap orang punya angle beritanya masing-masing. Sesuai sama yang udah dibagi, ada yang harus wawancara takmir masjid yang ada di gang dolly, terus warga/pemudanya (ini part gue), ada juga yang kebagian nyamperin bu RT/RW, dan juga pedangang yang jualan di gang itu sejak lama.

Di hari pertama, setelah sholat dzuhur di masjid At-Taubah, kebetulan yang cowok ketemu sama Abah Petruk. Beliau ternyata takmir masjid itu sekaligus tokoh masyarakat di Gang Dolly. Akhirnya temen-temen gue yang cowok minta waktu ke Abah buat wawancara. Dan yang cewek, lebih milih jalan-jalan sambil nyari partnya masing-masing.

Tiga temen gue bersama Abah Petruk

Sembari berkeliling, ternyata di gang itu gue masih bisa liat banyak perempuan yang berpakaian minim. Gue jadi bertanya-tanya aja sih, ini perempuan-perempuannya berdandan seksi emang karena budaya di gang dolly begitu atau memang dia mantan PSK? Gatau deh. Terus juga ada tuh beberapa kosan yang terlihat mencurigakan. Dari luar tulisannya kosan, tapi tertutup. Pintu sama kacanya hitam, dan ditutup. Waktu itu gue sama 2 temen gue lagi beli rujak, dan kebetulan makannya di depan kosan hitam itu. Pintunya pas lagi setengah terbuka. Ada cewek sama cowok lagi ngobrol, ceweknya masih mbak-mbak muda seumuran gue. Dan cowoknya terlihat udah berumur kayak om-om gitu, dari penampilannya juga agak mencurigakan. Dia pake jaket jeans sama kacamata  hitam terus kepalanya botak kayak om-om jahat di sinetron deh (oke, korban sinetron). Gue gak ngajak kalian buat suudzan kok, tapi emang itu yang gue liat wkwkw.

Udah skip aja yang itu gak penting. Setelah makan rujak, kita balik lagi ke masjid. Dan ternyata yang cowok belum pada selesai. Padahal kita jalan-jalan udah lamaaaa bgt -_-
Nah di depan masjid, ada warung sederhana yang jual es sachetan. Jadilah kita beli, dan ibu yang jual ramah sekali. Si ibu sepertinya tau kita ini pengunjung, mungkin karena udah sering juga kali ya kedatangan pengunjung, beliau tanya-tanya kita dari mana dan ikut duduk samping kita. Yaudah, sekalian deh kita tanya-tanya alias wawancara terselubung.

Si ibu ini ternyata orang asli situ. Beliau udah tinggal di gang dolly sejak lahir. Bahkan rumahnya turun temurun dari orangtuanya. Jadi beliau ini salah satu saksi perubahan Gang Dolly. Beliau bilang, sebelum ditutup gang itu rame banget kalo udah sore menjelang malam. Dulu, si ibu jualan kelontong kayak plastik, gelas-gelas, dsb. Karena ramai oleh pendatang, jualan apapun di sana pasti laris manis. Apalagi kalau jual yang menyangkut kebutuhan sehari-hari. Untungnya gede deh. Beda ama sekarang, si ibu udah beberapa kali ganti jualan tapi ya gitu-gitu aja.

Dari cerita si ibu kita tau penutupan Dolly ternyata berdampak besar terhadap perekonomian warga sekitar, gak cuma psknya aja. Oh iya karena ini prolog jadi gue kasih bocoran tentang Dolly biar kalo baca part selanjutnya gak bingung.
Jadi ternyata, susah kalo mau nyari mantan PSK di gang Dolly sekarang ini. Soalnya emang sebagian besar PSK itu pendatang, alias bukan warga asli situ. PSK yang orang asli paling bisa diitung jari. Makanya sejak ditutup, Dolly jadi sepi karena para PSK pulang ke daerahnya masing-masing. Begitupun para muchikarinya.

Kalo kalian searching tentang Dolly saiki, pasti keluar berita tentang warga yang demo nuntut pemkot buat ganti rugi belum lama ini. Nah, Abah Petruk dan si ibu (oh iya kalo gak salah namanya Ibu Sumiati, wkwk kalo gak salah! Lupa gue) bilangnya yang demo itu bukan warga asli. Mereka cuma pihak-pihak yang punya kepentingan terus mengatasnamakan diri sebagai warga Dolly. Padahal warga sekitar malah mendukung penutupan itu (untuk alasannya nanti mengalir di part selanjutnya ya!).

Dari situ, kita dapat banyak pertanyaan tentang Dolly. Apa masih ada kegiatan terselubung di sana? Terus siapa sebenernya yang demo nuntut pemkot kemarin? Dan apa aja langkah-langkah pemkot untuk mengatasi perekonomian warga yang anjlok akibat dari penutupan Dolly?

Makanya liputan Dolly gak selesai-selesai hahaha!
Tapi liputan ini bener-bener berkesan banget.

Sunday, July 29, 2018

Jasa Cuci Motor Gratis?


"Kami hanya ingin membantu sesama. Dan kami lihat, di sini banyak yang menggunakan sepeda motor. Selain itu, supaya kami bisa bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang juga." Ucap gadis bermata sipit itu.

Beberapa hari yang lalu, gue sama temen gue sedang berkeliling Kota Surabaya pakai sepeda motor. Fyi, gue sedang menjalani internship di salah satu media cetak dan online di Surabaya.
Tepat, jadi wartawan.
Mungkin sebagian dari kalian yang baca bertanya-tanya, kok anak Sastra Inggris magangnya jadi wartawan? Panjang ceritanya. Kalo mau tau, dm ig aja. Hahaha najong!

Tentu, saat itu gue dan temen gue lagi cari bahan buat berita. Dan tiba-tiba aja kita lihat di kiri jalan ada segerombolan orang dengan spanduk bertuliskan 'Cuci Motor Gratis'. Kalau kata dosen gue, mata wartawan itu harus jeli, harus tertuju ke segala arah. Jadi pas lihat ada yang unik dikit, mata langsung ijo. Tanpa basa basi kami pun menghampiri kegiatan itu.

Pas kita masuk, ada satu bule yang bilang 'langsung ke sana saja' sembari menunjuk deretan motor yang sedang dicuci.
Iya, bule.
Tapi kami menolak, bukan karena sombong. Tujuan kami hanya mau wawancara. Sebenarnya bisa sih sambil nunggu motornya dicuci. Cuma takutnya kelamaan, sedangkan kami masih punya satu agenda lagi buat diliput. Lagipula antriannya banyak.

"Oh, kalau mau tanya-tanya sama mbak yang pake baju merah aja mas. Dia yang punya kegiatan." kata seorang bapak-bapak sambil menunjuk gadis berwajah asia di sebrang kami. Kami pun segera menghampiri perempuan itu. Dan bertanya-tanya seputar jasa cuci motor yang mereka tawarkan.
Seorang gadis keturunan Hongkong itu memakai name tag bertuliskan Sister Wu. Ya, itu memang namanya. Bahasa Indonesianya cukup lancar, jadi kami bisa mewawancarainya menggunakan Bahasa Indonesia.

"Kenapa memilih cuci motor gratis mbak?" Tanya kami. Ia menjawab seperti quote yang gue sajikan di awal postingan ini.
Jadi, kegiatan ini memang yang ngadain remaja bule-bule gitu. Mereka merupakan jemaat gereja Yesus Kristus Surabaya. Mungkin semacam remaja masjid kali ya. 
Tak hanya cuci motor gratis, mereka juga membuka kelas Bahasa Inggris gratis, Movie Night, bahkan olahraga bersama. Semua kegiatan itu tak lain dan tak bukan adalah bakti sosial mereka untuk masyarakat sekitar. Tujuannya, seperti yang dibilang Sister Wu. Supaya mereka bisa bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Mungkin mereka berusaha membangun relasi. Selaku warga negara asing yang tinggal di negara orang, gak mungkin dong mereka ga bersosialisasi sama warga sekitar. Hitung-hitung juga buat ngelancarin bahasa Indonesia mereka. Dari berbagai macam kegiatan bakti sosial itu, mereka berkenalan dengan banyak orang bahkan hingga bertukar cerita satu sama lain.

Cukup unik sih, apalagi jasa cuci motor gratis ini. Di sore hari, pasti banyak orang yang sepulang kerja merasa lelah dan motornya kotor. Daripada mereka capek nyuci sendiri atau buang duit buat steam, mending memakai jasa ini. Dan sembari menunggu motor mereka dicuci, mereka bisa berkenalan dan mengobrol bersama. Lumayanlah, penat akibat pekerjaan dan perjalanan jadi berkurang.

Entah kenapa, senang rasanya melihat hal kecil semacam itu ternyata banyak juga manfaatnya. Siapa sangka ada yang bahagia dibalik sebuah jasa cuci motor gratis? Meskipun kegiatan ini hanya dilakukan dua minggu sekali, tapi gue yakin bakal ada orang yang datang rutin. Gue, yang gak ikut turut andil, senang juga pas liat para pelanggan puas dan tersenyum senang melihat motor mereka bersih dan kinclong.

Ternyata sesimpel itu ya mencari sebuah kebahagiaan. 
Jadi, bagaimana? Ada niatan memutar otak untuk melakukan hal yang serupa?

Tuesday, April 17, 2018

Review #FilmTemanTapiMenikah, tapi banyak curhatnya! - Apa Kata Feli #2

Halo pemirsah! Lama tak jumpa. Apa kabar?  Gua harap selalu baik ya. Saling mendoakan supaya kita sehat selalu. Aamiin.

Beberapa hari yang lalu, akhirnya gua kesampean buat nonton film Teman Tapi Menikah (TTM). Dan sekarang gua mau bikin review kecil-kecilan. Oke, sebelumya gua mau ngasih tau dulu kalo gua penggemar kisah romansa Ayudia Bing Slamet dan Dittopercussion. Gua udah ngikutin kisah mereka dari awal baru nikah sampe sekarang. Entah ya, menurut gua menarik aja gitu. Ditambah si Sekala, anaknya, membahagiakan banget kalo diliat jadi makin seneng deh ngikutin alur hidup mereka lewat sosial media wkwk. Dan gua sempet kagum juga sih pas tau kisah mereka ternyata dibuat novel. Gua langsung incer novelnya dan alhamdulillah kebeli. Dari awal baca novelnya pun gua udah ngerasa interested gitu. Apalagi pas tau novelnya diangkat ke layar lebar, beh senangnya luar biasa. Lebih-lebih yang main Adipati, waduh harus kudu nonton banget ini!!! Jadi karena dari awal gua udah suka sama cerita mereka, kayaknya review ini bakal banyak komentar bagusnya deh.

Film ini diangkat dari novel mereka yang tentu berangkat dari kisah nyata perjalanan asmara antara Ayudia dan Ditto. Diperankan oleh Vanesha sebagai Ayu dan Adipati sebagai Ditto. Ceritanya pesahabatan yang berujung pada pelaminan. Ya, Ayu dan Ditto ini dulunya sahabat deket! Eh siapa sangka si Ditto ternyata mendem perasaan ke Ayu dari awal pertama kali mereka ketemu, tepatnya dari SMP! Tapi si Ditto ini strateginya bagus juga. Dia lebih milih sahabatan sama Ayu dibanding buat nembak dan ngajakin pacaran. Selama 12 tahun mereka temenan, dan selama itu juga Ditto nyembunyiin peraasannya. Sampe akhirnya, mereka sempet berjarak karena Ditto kuliah di Bandung. Tapi berada jauh dari Ayu ternyata gak menghilangkan perasaan Ditto. Perasaannya masih tetep  sama. Dan Ditto mulai sadar kalo perasaan itu gak mungkin terkurung terus menerus. Dia mulai mikir kalo perasaan itu perlu diutarakan. Alhasil Ditto pun mengutarakan pada Ayu soal perasaannya. Tentulah itu bikin Ayu shock. Temen yang selama ini bareng dia, tau semua cerita dia, tau aib-aibnya, eh ternyat mendem perasaan. Selama 12 tahun lagi!! Mungkin awalnya Ayu ragu dan nganggep Ditto gila, tapi akhirnya dia sadar kalo dia pun butuh Ditto. Terbukti, selama mereka sahabatan apa-apa selalu ke Ditto. Dan jadilah mereka menikah.

Menurut gua filmnya bagus. Bagus banget! Menarik. Ceritanya simpel tapi nyampe ke hati. Gak jauh-jauh banget lah dari novelnya meskipun ada beberapa part yang beda dari apa yang ada di novel. Kayak adegan Ditto pas ngungkapin perasaannya ke Ayu. Di novel, Ditto nyampein perasaannya setelah Ayu bilang kalo dia mau off pacaran dulu. Tapi di film, Ditto ngungkapin pas Ayu punya kabar kalo dia bakal nikah. Mungkin biar sedikit lebih heboh aja kali ya. Terus aa yang disayangkan juga, adegan pas Vanesha sedih. Nangisnya kurang natural, raut sedihnya juga kurang dapet. Tapi overall, gua  tetep  suka. Akting Vanesha dan Adipati patut diacungi dua jempol! Gua suka interaksi mereka yang natural banget. Ceritanya jadi kayak cerita mereka beneran! Gua sampe lupa kalo itu kisah nyata Ayu sama Ditto haha. Untung di sesi akhir Ditto sama Ayu yang asli muncul, jadi gua kebayang lagi deh kalo Adipati itu Ditto dan Vanesha itu Ayu. Ya, itu sih review dari gua. Kalo alur ceritanya gak perlu ditanya lagi! Bagus sumpah deh bagus. Mungkin karena emang diangkat dari kisah nyata juga kali ya. Jadi filmnya menarik buat ditonton meskipun konflik dan pembawaan ceritanya ringan banget.

Yap itu tadi sesi reviewnya. Sekarang gua mau cerita personal feeling gua setelah nonton film itu. Jujur, cerita romansa jaman sekolah itu selalu menarik buat gua. Karena gua sendiri punya kisah yang unik waktu SMA. Ceritanya gak sebagus cerita Dilan ataupun TTM sih, tapi gak tau kenapa cerita itu membekas banget di gua bahkan sampe sekarang. Awal gua tertarik sama cerita Ayu dan Ditto ini juga karena gua rasa cerita mereka nyerempet dikitlah ke cerita gua. Sebenernya gua gak pernah punya hubungan asmara sih waktu itu, ya cuma temen dengan perasaan lebih aja. Gua sama seseorang di masa lalu itu juga gak sedeket Ayu sama Ditto. Biasa aja. Tapi gak tau ya, jadinya gua sempet galau gitu setelah nonton film ini karena beberapa partnya mirip sama apa yang gua alamin. Contohnya, kata-kata Ditto yang bilang "Gua mungkin sekarang main-main sama cewe Cha, tapi lo liat aja gua bakal setia sama istri gua nanti." itu pernah gua dapetin dari dia. Intinya dia bilang, cowok gapapa puas-puasin pacaran sekarang, yang penting nanti kalo udah nikah dia setia sama istrinya. Gak nyangka aja sih dengan nonton film ini gua jadi inget dia lagi.

Terus, adegan Ditto yang pergi ke Bandung biar jauh dari Ayu dan berpikir kalau dengan berada di Bandung, dia bisa ngilangin perasaannya juga mirip sama cerita gua. Jadi dulu gua pingin banget kuliah di Bandung, tapi karena gua sama dia terkena konflik yang bikin hubungan kita jadi gak baik, gua memilih kabur ke Malang. Karena dia ternyata keterima di salah satu kampus di Bandung. Gua juga berpikir waktu itu, mungkin dengan gua berada jauh dari dia gua bisa lupain dia. Tapi ternyata gua gak yakin ini berhasil. Gua sama dia emang masih berteman. Sempet kok kita chattingan beberapa kali layaknya teman setelah gua kuliah di Malang. Namun yang bikin beda, kita pernah saling tau gimana perasaan masing-masing dan ada kesalahpahaman sehingga kita ngerasa kalo kita saling menyakiti. Mungkin itu yang bikin hubungan pertemanan kita semacam punya gap. Gua jadi inget kalo Bandung itu kota tempat  kita janji buat ketemu lagi. Gua juga  masih inget betul dia pernah ngomong "Gua tunggu lu di Bandung, Fel.". Tapi nyatanya, konflik itu bikin gua menciut dan gak mau ada di kota yang sama kayak dia.

Dan ada satu hal yang sempet gua sesali, gua bohong. Bohong atas perasaan gua sendiri. Gua terlalu  naif dan egois. Gua sempet berpikir kalau dia nyakitin gua. Padahal kalo dipikir-pikir mungkin gua juga udah nyakitin dia dalam hal yang nggak pernah gua tau. Gak masalah kalopun cerita indah antara gua dan dia cuma berhenti di jaman sekolah. Asal hubungan kita masih terjalin baik meski cuma sekedar teman. Karena gua ngerasa banyak hal positif yang gua dapet dari dia. Gua gak berharap hubungan teman yang berakhir kayak cerita Ayu dan Ditto. Meskipun jujur aja, cerita gua sama dia gak bisa gua lupain, tapi gua rasa perasaan gua udah netral sekarang ini. Gua hanya rindu dia sebagai seorang teman. Penyemangat yang gak bosen buat ngasih semangat satu sama lain. Yang gak bosen bicarain masa depan kita mau kayak gimana. Yang ngasih tau hal baru yang  gak gua tau. Sharing dunia kita masing-masing. Ngobrol kesana kemari, berdiskusi, bertukar pendapat dan pikiran. Gua bahkan pengen denger cerita dia ketemu pacarnya, siapa dan gimana pacarnya. Atau barangkali gua yang cerita tentang asmara gua di kota Malang. Gua juga pengen denger kuliah dia di sana kayak gimana. Gimana rasanya kuliah di Bandung, kota impian gua dulu. Gua pengen dia cerita sebanyak-banyaknya sampe gua nyesel gak jadi kuliah di kota itu. Tapi gua rasa itu semua gak bakal terjadi.

Gap yang ada antara gua sama dia rasanya semakin lebar. Dan gua sedih tiap kali inget itu. Sekarang gua cuma penasaran gimana dengan dia di sana? Apa dia udah gak mau lagi untuk sekedar menyapa gua? Karena gua pun gak berani nyapa dia yang statusnya sedang milik orang lain. Gua takut konflik yang sama terulang lagi. Gua gak mau dianggap sebagai perusak  hubungan orang untuk sekedar memperbaiki hubungan gua sama dia sebagai seorang teman.

Loh jadi banyak curhatnya daripada reviewnya wkwk. Maaf ya gua ngelantur.
Kayaknya karena gua ngetiknya sambil dengerin soundtrack film TTM deh, Hello You nya Iqbaal Ramadhan. Jadi terbawa suasana deh. Eh btw asik juga filmnya bawa-bawa pemeran Dilan, ampe pas Iqbaal sama Vanesha papasan bikin semua penonton menjerit wkwk. Penasaran? Gih nonton filmnya. Barangkali lu inget kisah lu sama si dia haha.

Udah ah, ngelantur mulu. Segitu dulu ya session #ApaKataFeli nya. Sampai jumpa di postingan berikutnya!


Regards,

Author

Sunday, March 4, 2018

Dari "Black Panther" sampe "Yowis Ben" - Apa Kata Feli #1

Ayo yang udah nonton Black Panther mana suaranya?

Oke, ini konten perdana tag #ApaKataFeli. Disini gua mau sedikit review dan sharing aja pendapat gua setelah nonton film Black Panther yang katanya sekarang jadi #1 Movie in the world. Waw keren yaaa! Tapi emang gua akuin ini film keren banget!!

Film Black Panther ini bercerita tentang masyarakat Wakanda, sebuah fictional place yang masyarakatnya terlihat mengangkat budaya Afrika gitu. Nah ceritanya itu, T'Challa (si Black Panther) diangkat menjadi Raja Wakanda yang baru setelah kematin ayahnya di sequel the Avenger yang Captain America: Civil War. Tentunya menjadi seorang Raja pasti mengemban tugas yang sangat berat dong. Apalagi T'Challa sempet gak diterima sama salah satu suku, yaitu suku Jabari. Tapi akhirnya tetep jadi Raja kok wkwk. Belum lama bertahta, T'Challa udah dapet masalah baru. Salah satu perkakas Wakanda yang dimuseumkan dicuri sama sekelompok orang yang terobsesi sama kekayaan Wakanda, Vibranium (logam terkuat di dunia, di ceritanya sih gitu). Yang gak disangka-sangka, ternyata pencurinya itu adalah sepupunya sendiri (Killmonger). Ya gua gak mungkin nyeritain detailnya ya wkwk. Pokoknya intinya si sepupunya ini mau  merebut tahta T'Challa dan mengubah tradisi yang selama ini ada di Wakanda. 

Akibatnya, terjadilah  perang saudara. Nah ini nih, dari part ini gua dapetin sebuah pelajaran. Coba lu bayangin, sebuah suku yang tadinya begitu kompak, melindungi tanah tercinta, eh tau-tau pecah cuma gara-gara kedatangan satu orang yang punya misi berbeda. Kalo ditelaah nih ya, yang gua tau film-film perang zaman dulu itu pasti perangnya perang antar-negara atau antar-kerajaan atau antar-suku. Tapi di film Black Panther ini kita diperlihatkan sebuah perang saudara, perang satu suku. Penyebabnya cuma karena power, kekuasaan. Sedih coooy liatnya. Sebenernya sih ya, itu semua terjadi karena si Killmonger ini terobsesi buat memuaskan egonya sendiri. Dia merasa dirinya yang paling benar dan yang lain salah. Kalo diliat berdasarkan teori psikologinya Sigmund Freud, Id si Killmonger terlalu mendominasi sehingga menutupi Superegonya. Alhasil, yang  berjalan cuma Id yang diwujudkan dengan Ego tanpa disetir dengan adanya Superego.

Di film, ceritanya Killmonger itu mau mengekspos semua kekayaan Wakanda yang berupa Vibranium kepada seluruh dunia. Dia berencana ingin menunjukkan pada dunia bahwa Wakanda tak patut untuk dilecehkan dan direndahkan. Dia ingin Wakanda menjadi pusat/power yang bisa menguasai dunia. Namun yang salah, si Killmonger ini bahkan belum mengerti budaya atau tradisi yang sudah melekat di Wakanda. Ia tidak peduli dengan nilai dan norma yang sudah ditanamkan oleh para leluhurnya karena selama ini ia tinggal di Amerika. Padahal harusnya, kalo menurut gua sih, sebelum kita terjun ke area yang lebih luas, kita harus punya jati diri terlebih dahulu. Harus punya identitas dan wawasan yang luas dulu, supaya gak ke seret arus budaya lain. Ibaratnya, sebelum diving, kita harus mempersiapkan diri dengan pake pakaian diving, pake tabung  pernapasan, pake kacamata renang. Itu semua untuk melindungi diri kita ketika menyelam ke habitat yang bukan habitat asal kita. Supaya kita gak mati tenggelam terus menyatu dengan laut. Supaya kita bisa menyelam dengan aman, mempelajari apa yang ada di dalam laut, kemudian kembali ke habitat asli dan mengeksplor hasil pengetahuan tanpa harus merubah habitat kita menjadi sama seperti laut. Konflik macam ini nih yang udah banyak terjadi di masyarakat zaman now.

Dan maap rada belok sedikit juga, dari film itu gua juga agak sadar akan sesuatu. Mungkin ini yang sedang terjadi di Indonesia, perang saudara. Belum lama ini gua liat video Bayu Skak yang  judulnya "Aku Wong Jowo". Video itu berisi tentang kekecewaan Bayu Skak atas orang-orang yang menindas hasil karyanya. Ya, kita tau Bayu Skak baru aja merilis film baru "Yowis Ben" yang 90% nya menggunakan bahasa Jawa. Mungkin ada beberapa orang berpikir, ih rasis amat pake bahasa Jawa, atau ah ogah nontonnya, gak ngerti. Kalo boleh diklarifikasi, bukannya justru orang-orang yang bilang begitu yang rasis? Masa gak boleh bikin film pake bahasa Daerah? Selama ini banyak tuh masyarakat yang nerima film produksi negara lain yang berbahasa Inggris, tapi kenapa giliran ada pribumi yang bikin film pake bahasa daerah dibilang rasis, di jatuhkan, dan diolok-olok? Toh filmnnya sama-sama ada subtitlenya. Kadang gua bingung aja sih, Bayu Skak ini kan tujuannya baik. Dia  mau bikin sebuah perubahan dengan mengangkat budayanya yang at least, budaya kita juga. Budaya Indonesia. Eh tapi malah dijatuhkan. Dibuat bahan yang memicu perpecahan, perang saudara. Meskipun emang itu mungkin konflik antar-suku, tapi ada hal penting yang harus diinget. KITA MASIH SATU BANGSA.

Apa salahnya sih mendukung saudara sendiri demi memajukan bangsa? Sekarang kalo karya orang lokal sendiri gak dihargain gimana kita mau maju? Kalaupun gak mau nonton filmnya, ya gausahlah pake mengolok-olok. Kita support dong saudara kita sendiri. Kalau perlu dicontoh. Bener kata Bayu Skak, barangkali dengan mengangkat film seperti itu kita jadi bisa mengetahui budaya Indonesia  yang beraneka ragam itu.  Coba kalau orang Sunda, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTT NTB, Madura, Banten dan lain-lainnya itu  punya inisiatif yang sama kayak  Bayu Skak, pasti budaya Indonesia sedikit demi sedikit akan terekspos. Bayangkan, kita semua dikit-dikit bakal ngerti budaya-budaya di negri kita sendiri. Kita akan jadi bangga. Kita punya cirikhas yang bisa kita tunjukin sama dunia. Liat film Black Panther, itu film mengangkat  derajat orang kulit hitam yang sempat dipandang sebelah mata oleh dunia. Sekarang orang-orang di dunia pun jadi tau betapa uniknya budaya Afrika karena diselipkan di film tersebut. Itu semua berkat dukungan dan respon positif  dari semua orang yang udah menghargai film itu.

Kita udah tertinggal sama yang lain.. Udah ada banyak negara maju, dan kita masih aja berkembang. Kita harus udah mulai berpikir gimana cara megejar ketertinggalan kita. Dan untuk mewujudkan itu semua, warga Indonesia harus bersatu. Saling dukung, saling support, saling menghargai, saling memotivasi dan termotivasi. Bukan malah saling menjatuhkan. Ada orang Indonesia yang berkarya, ya disupport. Apalagi buat orang semacam Bayu Skak yang masih sadar dan bangga akan budayanya. Toh itu bakal jadi kebanggaan bersama. Kalo di Black Panther bilang Wakanda forever, kita harus bilang Indonesia selamanya. Sekarang bukan waktunya lagi nunjukkin siapa suku terbesar di Indonesia, atau apa Agama terkuat di Indonesia. Tantangan dan lawan kita itu dunia, bukan sebangsa. Nah tapiii, sebelum kita menunjukkan pada dunia siapa Indonesia, ada baiknya kita mengenali dulu diri kita sendiri. Karena gak mungkin kan kita keluar tanpa identitas? :)

Maaf kalo pembahasannya gak nyambung dan kemana-mana. Tapi  kalo lo orang Indonesia, plis jangan judge gua. Lebih baik lo komen dan kasih masukan di kolom komentar. Karena begitulah seharusnya cara memperlakukan saudara kan? :)


Regards,

Author

Thursday, February 22, 2018

Jadi Anak Bahasa & Sastra - Dunia Anak Sastra #1

Sampe detik ini gua gak ngerti betul kenapa gua milih buat menjurus ke arah bahasa dan sastra. Semua terjadi begitu aja tanpa ada pemikiran yang matang untuk kedepannya. Alasan gua ya karna suka aja belajar bahasa. Dan alasan lainnya karna gua males mikir yang berat-berat. Tapi ternyata belajar bahasa dan sastra pun gak semudah yang dibayangkan. Jadi, disini gua bakal ceritain pengalaman gua sebagai seorang anak bahasa dan sastra.

Setelah diterima di jurusan bahasa dan sastra Inggris, gua seneng banget sih. Gua udah pede duluan dengan membayangkan kalau kuliah gua bakal santai dan enak. Tapi taunya, setelah kuliah selama hampir tiga tahun ini, gua baru sadar kalo gua salah coy. Ternyata gak segampang itu hiks.
Dan semenjak masuk ke jurusan itu, ada satu pertanyaan yang kadang bikin gua mikir berat "emang nanti setelah lulus bakal jadi apa?". Oke, andai kalian tau betapa galaunya gua dan temen-temen ketika mendapati pertanyaan macam itu. Karna ya emang kami gak punya bidang pekerjaan yang menjanjikan banget. Tapi meskipun begitu, ada satu pesan dari dosen gua yang selalu gua inget. Dan kata-kata beliau sukses jadi moodbooster tiap kali gua jatoh karna pusing mikir mau jadi apa nantinya.

"Kalian harusnya bangga jadi anak Bahasa. Karena semua ilmu itu bermula dari bahasa. Coba kalau gak ada bahasa, gabakal ada tuh materi IPA, Kedokteran, IPS, dll."

Bener kan? Semua orang bergantung pada bahasa. Bahasa itu bagian dari kehidupan. begitu juga dengan sastra. Jadi sekarang, gua gak minder lagi meskipun gua cuma seorang anak bahasa dan sastra. Mau jadi apapun nantinya, yang penting fokus belajar aja dulu. Dan satu hal yang bikin bahagia, ternyata dari jurusan pun kita ditawari beberapa mata kuliah profesi kayak Journalist, Tour Guide, Translator, dan ELT (keguruan). Lebih luas kan jangkauannya. Gak cuma terpaku sama satu bidang pekerjaan aja. Jadi kalo kalian udah masuk atau mau milih jurusan bahasa dan sastra, jangan takut bakal gak dapet pekerjaan cuma karena lulusan Bahasa dan Sastra. Semua balik lagi ke individunya masing-masing kok. Kalo serius dan ditekuni, insyaAllah pasti bermanfaat.

Oke, terus apa aja sih yang dipelajari di jurusan Bahasa dan Sastra itu? Well guys, kita belajar banyaaaak banget. Dan gua ngerasa kalo semua ilmu yang gua dapetin disini itu menarik. Gatau ya, kalo ditanya menyesal gak sih masuk bahasa dan sastra? Gua jawab engga sama sekali. Justru gua malah ngerasa beruntung dan bersyukur karena udah dikasih jurusan yang emang pas banget, sesuai sama kemampuan gua.

Jadi, kalo ngomongin soal materi dan mata kuliah, di awal perkuliahan gua masih dapet materi-materi dasar kayak Grammar, Writing, Speaking, Listening, dan Reading. Yaa kayak les b.Inggris gitu deh. Sisanya mata kuliah umum kayak Pkn, B.indonesia, Ilmu Alamiah Dasar dan beberapa mata kuliah agama karna kampus gua berbasis Islam. Setelah itu, di semester 3 barulah kita dapet matakuliah Introduction to Linguistics and Literature (pengenalan ilmu bahasa dan sastra). Gua sempet agak bingung juga sih apa yang bakal dipelajari di ilmu bahasa dan sastra. Ternyata kita bakal menelusuri segala aspek kebahasaan dan juga kesusastraan gitu. Kita bakal dapet matkul tentang tatanan bahasa mulai dari yang terkecil, terus juga sumber bahasa atau organ-organ tubuh yang berkaitan dengan produksi suara. Masalah, penyakit, atau syndrome yang berkaitan dengan bahasa. Terus juga belajar teori-teori sosial kayak sosiologi, psikologi, feminisme, marxisme untuk menganalisa karya sastra. Ah banyak deeeh.

Nah di semester 4, kita mulai belajar basic dari ilmu-ilmu itu. Kayak Morphology, Phonology, Basic analysis of prose & poetry, terus juga kita dapet matkul Filsafat ilmu. Pelajaran apaan tuh? InsyaAllah nanti akan gua bahas satu persatu di postingan berikutnya. Doain semoga gak lupa wkwk. Kemudian, di semester 5 kita diberi pilihan mau pilih konsentrasi apa, linguistics (kebahasaan) atau literature (kesusastraan). Apa bedanya? Kalo di linguistics kita bakal disuguhi materi-materi mendalam tentang kebahasaan, contohnya kayak sosiolinguistik, psikolinguistik, pragmatik, dan lain-lain. Nah kalo di yang literature kita lebih dikenalkan kepada teori-teori sosial yang tujuannya kita pake untuk menganalisa sebuah karya sastra. Mungkin nanti result dari linguistics itu bakal jadi pakar bahasa atau ahli bahasa, sedangkan literature mencetak para kritukus sastra bahkan untuk beberapa kasus ada juga yang jadi penulis. Gak cuma itu aja, kita juga diberi pilihan kelas profesi kayak yang udah gua sebutin di atas.

Karena kita dijejali banyak pengetahuan tentang bahasa (baik itu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi maupun bahasa dalam karya sastra), bisa dibilang kalau kita ini secara tidak langsung dilatih untuk menjadi seorang manusia yang peka, dan juga tau gimana cara berkomunikasi dengan baik dan benar. Kita diajarkan untuk menganalisa bahasa dari segi teks, konteks, maupun ideologi. Jadi, anak bahasa dan sastra bisa loh menganalisa seseorang lewat tutur bahasanya. Tuh kan kurang apalagi coba anak bahasa dan sastra? Wkwkwk. Oh iya, selain belajar tentang bahasa dan sastra, kita juga dikasih mata kuliah yang berkaitan dengan budaya loh, contohnya kayak sekarang nih di semester 6 ini gua dapet mata kuliah Cultural Studies (studi kebudayaan) dan Interculturality in Language and Literary Study. Asik pokoknya. Meskipun pusing juga kadang, tapi ilmu-ilmu itu bikin gua jadi bangga gitu bisa menyelam ke dalam dunia bahasa dan sastra.

Emang ya bener banget kata orang, milih sesuatu itu harus pake hati. Dan ngejalanin sesuatu juga harus pake hati. Karna kalo udah pake hati, gimanapun rintangannya pasti terlewati juga. Jadi seorang anak bahasa dan sastra ternyata gak semudah yang gua pikir. Tapi gimanapun sulitnya, karna gua suka, alhamdulillah gua bisa melewatinya dengan rasa senang. Mungkin sekarang ini gua masih gak tau dan gabisa mastiin bakal jadi apa setelah lulus nanti, tapi yang pasti gua tau kalo ilmu yang gua dapetin selama ini gak akan sia-sia. Pasti akan berguna suatu hari nanti. Jadi, jangan pernah memandang sebelah mata sebuah ilmu. Apapun itu, yang namanya ilmu pasti berguna. Kalo gak berguna bukan ilmu namanya.

Buat kalian-kalian yang mungkin bernasib mirip, minder sama jurusannya, atau ngerasa salah jurusan, jangan pesimis. Jalanin aja apa yang udah lu pilih dalam hidup lu. Seenggak suka apapun lu terhadap pilihan yang udah lu pilih, jangan nyerah gitu aja. Mungkin dibalik itu Tuhan punya rencana lain buat lu. Cukup jalanin pake hati yang disertai rasa ikhlas. Nikmatin prosesnya, karena hasil tidak akan pernah mengkhianati proses kan? :)

Regards,


Author.

New Normal, Tetap Update Covid-19 dengan Kumparan :)

"Hal yang paling ditunggu manusia adalah kabar." Begitu kata dosen saya saat tengah mengampu mata kuliah Jurnalistik. Tidak da...