Malioboro memang tak pernah sepi. Keadaan ini persis seperti
yang terakhir kali kulihat dua tahun silam. Keramaiannya tak berkurang. Seakan-akan
setiap orang sengaja mengunjungi tempat ini setiap malam. Tentu saja dengan
tujuan yang berbeda-beda. Mungkin banyak di antara mereka yang kemari untuk
membangkitkan kenangan.atau mungkin beberapa ingin mengulang momen indah
bersama orang terkasih. Atau barangkali sisanya ingin menghapus jejak langkah
di masa lalu. Seperti aku.
Setiap langkah yang kuambil diikuti oleh hembusan angin. Bersatu padu dengan suara para pedagang yang
sedang merayu. Mereka mengundang para pejalan kaki untuk mampir ke kedai atau
toko mereka. Beberapa tergoda dengan rayuan itu, kemudian menyisihkan waktu untuk melihat dan
membeli. Sedangkan sisanya, tidak goyah dan terus melangkah tanpa tujuan. Seperti aku.
Aku tak menghiraukan apa yang ada di sepanjang jalan. Tak pula
menggiring kemana aku akan pergi. Bukan lagi pikiran yang menuntun kaki ini
bergerak, namun nurani. Hingga tak sadar, langkahku telah melenyapkan suara
para pedagang yang terkenal merayu itu. Berganti dengan suara lintasan
kendaraan yang berlalu lalang dari arah berlawanan. Mataku masih menangkap beberapa pedagang kaki lima yang kini jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka menepi
pada pinggiran tembok pagar yang membatasi wilayah area dilarang masuk. Disitulah
langkahku terhenti.
Kupandangi apa yang ada didepanku saat ini. Sebuah Monumen
Serangan Umum 1 Maret yang berkilau dengan cahaya lampu. Membuatnya mencolok
diantara gelapnya langit malam. Aku melangkah lagi untuk lebih dekat dengan
pagar pembatas. Monumen ini masih belum berubah. Bentuknya masih sama seperti dua
tahun yang lalu.
“Raya.” Suara yang tak asing menyebut namaku. Kualihkan pandanganku
pada sumber suara itu. seorang lelaki bertubuh tinggi , tengah berdiri 10 meter dari
hadapanku. Ia melambaikan tangan kanannya dengan wajah yang ceria. Aku tersenyum.
Ternyata tak berubah, aku masih saja tersenyum tiap kali melihat wajahnya.
“Mas Latif.” Suaraku terdengar parau. Dari tempatku berdiri
sekarang, aku bisa melihat tubuhku berlari menuju lelaki itu, menghamburkan
diri dalam pelukannya yang hangat. Melepas sesuatu yang oleh banyak orang disebut
sebagai ‘rindu’.
Aku menghampiri keduanya, menatap diriku yang rapuh dalam
pelukan Mas Latif. Hatiku tersiksa dan terbuai dalam waktu yang bersamaan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Mas Latif pada diriku. Ia perlahan
melepas pelukannya yang begitu hangat. Memaksa menjauhkan tubuhku agar wajahku bisa ditatapnya.
“Aku tak pernah baik-baik saja selama masih memendam rindu.”
Jawabku padanya. Kedua matanya menatapku dalam-dalam. Ia tersenyum, mewakilinya berkata 'aku juga rindu'. Ia merefleksikan perasaannya pada ekspresi yang ia tunjukkan. Sekarang ini, aku bisa menyaksikan dua senyum penuh arti. Dua senyum yang
melambangkan perasaan terdalam dari masing-masing hati. Ya, aku bisa melihatnya.
“Terima kasih sudah menungguku, Raya.” Ucap Mas Latif. Kemudian ia
menawarkan diri untuk mengantarku pulang ke rumah karena hari sudah malam. Pertemuan singkat tersebut setidaknya telah membayar rindu yang sudah cukup lama dipendam. Mereka mulai
menjauh dari hadapanku. Langkah keduanya sejajar dan beriringan. Dunia seakan tak berisi apa-apa, kecuali mereka berdua. Matanya saling bertautan, menatap wajah satu sama lain. Membicarakan topik
sederhana yang bisa menerbitkan senyum indah di wajah keduanya. Sesekali
mereka tertunduk malu, mungkin karena sadar bahwa wajah mereka tengah merona.
Hingga bayangan indah itu semakin jauh dari pandanganku. Obrolan mereka sudah tak
sampai lagi kudengar. Mereka menghilang.
Itu diriku dan Mas Latif dua tahun silam. Tahun dimana kami
masih bersama, menghabiskan waktu dengan kasih dan rindu, di tempat ini. Sebelum akhirnya Mas
Latif memilih mundur dan pergi. Meghapus semua kenangan yang ada diantara kami
ketika aku masih bisa mengingat semuanya dengan jelas. Perasaan itu, senyuman
itu, tatapan itu, pelukan itu. Semua tentang Mas Latif.
Malam ini, di Yogyakarta, aku berhasil menghapus satu lagi jejak
kaki di masa lalu. Menggantinya dengan langkah yang baru. Aku tidak merasa ini
tidak adil. Bukan salah Mas Latif jika aku masih terperangkap oleh perasaan yang
sama seperti dua tahun lalu. Dan bukan salahku juga karena tidak bisa
menghapusnya secepat yang Mas Latif lakukan. Ini semua tentang waktu. Mungkin aku
butuh lebih banyak waktu untuk menghapus itu semua.
Tapi sebelum itu terjadi, Bolehkah sekali ini aku mengatakan
kalimat itu lagi?
Mas Latif, aku rindu.
Oleh : F.Riyani


Perfect!!!
ReplyDeleteBelum perfect. Masih banyak tata bahasa yang salah kayaknya 😂
DeleteMas Latif juga rindu, dek Raya :)
ReplyDeleteMas latiiifffff :"v
Deletebu sastra :") mas latif iku sopo? hahah
ReplyDelete