Thursday, July 6, 2017

Jembatan Sewu


Indonesia mempunyai satu ciri khas yang terkenal ketika bulan Ramadhan, yaitu mudik. Dimana para perantau pulang ke daerah asalnya. Berhubung Ibu saya merupakan seorang perantau, jadi saya merupakan salah satu penduduk yang melakukan tradisi “mudik”. Tujuan mudik saya dan keluarga adalah daerahTemanggung, Jawa Tengah. Berhubung saya dan keluarga merupakan pemudik jalur darat dengan kendaraan pribadi, terdapat dua jalur mudik yang dapat ditempuh untuk menuju daerah tersebut. Yaitu jalur selatan dan jalur utara. Selaku sang supir, bapak saya memilih jalur utara karena lebih cepat. Awalnya perjalanan masih lancar-lancar saja. Namun, kemacetan mulai nampak ketika saya dan keluarga memasuki gerbang Tol Cikampek.

Mulai geram, bapak saya memilih untuk memutar balik dan mencari jalur biasa. Jalan demi jalan kami lalui. Hingga sampailah kami di perbatasan Subang-Indramayu. Ada satu hal unik yang menarik perhatian saya ketika melewati daerah tersebut. Subang dan Indramayu dipisahkan oleh suatu jembatan yang disebut Jembatan Sewu (beberapa menyebutnya Jembatan Sapu). Hal yang membuat unik bukan jembatannya, tapi kondisi yang ada disana. Jauh sebelum tiba di jembatan, sudah terlihat beberapa orang berdiri di pinggir jalan. Baik di sebelah kanan maupun kiri. Mereka berdiri dengan memegang sapu lidi bergagang panjang. Saya bertanya-tanya, apa mereka para penyapu jalan? Tapi tidak mungkin menyapu dalam keadaan jalan yang ramai lancar seperti saat itu. Belum saya bertanya, bulik saya merogoh beberapa recehan lalu melemparkannya ke jalan. Orang-orang itu kemudian berebut menyapu koin koin yang dilemparkan.

Kenapa melempar koin? Apa orang-orang itu pengemis? Tanyaku.

Ternyata, terdapat sebuah mitos mengenai jembatan sewu. Konon, orang yang melewatinya dan tidak melemparkan uang akan mendapat bencana diperjalannya. Untuk mengetahui benar atau tidaknya, saya mulai browsing. Dan hal tersebut banyak dibahas dalam ulasan di beberapa website. Bahkan ada pula beberapa mitos mistis tentang jembatan tersebut. Kemudian mitos itu menyebar, hingga sampai ke telinga para pemudik yang melewati Jembatan Sewu. Oleh karenanya, banyak pemudik, yang tanpa disuruh lagi, melemparkan beberapa koin ketika lewat. Mitos yang berkembang di masyarakat tersebut menjadi kesempatan bagi para penduduk setempat untuk mencari sumber kehidupan. Mereka memanfaatkannya sebagai mata pencaharian mereka. Apalagi di musim mudik. Ada ratusan kendaraan yang lewat di jembatan tersebut. Namun yang membuat lucu, deretan orang bergagang sapu itu tak hanya terdapat di jembatannya saja. tapi juga di 500 meter sebelum dan sesudah jembatan.

Saya merasa senang ketika mengetahui salah satu tradisi unik yang ada di belahan negeri ini. Walaupun kesannya tidak begitu penting, ada satu hal yang membuat saya tersadarkan akan sesuatu. Ketika sebuah tradisi sudah melekat di suatu daerah, ia akan berkembang menjadi sebuah budaya. Meskipun kita sebagai orang yang berasal dari daerah lain, menghargai adalah sesuatu yang patut dilakukan. Bukan masalah mitosnya benar atau tidak, bukan masalah percaya mitos atau tidak. Tapi masalah menjaga budaya dan melestarikannya. Biar bagaimanapun, para pendatang harus menghargai budaya yang ada. Bukan meremehkan atau malah menertawainya. Toh, melemparkan koin di jembatan sapu bisa pula diniatkan sebagai sebuah ibadah. Budaya atau bukan, tradisi dan mitos tersebut mangandung nilai bagi setiap mata yang memandangnya. Meski kadang kali mitos telah disalahgunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

No comments:

Post a Comment

New Normal, Tetap Update Covid-19 dengan Kumparan :)

"Hal yang paling ditunggu manusia adalah kabar." Begitu kata dosen saya saat tengah mengampu mata kuliah Jurnalistik. Tidak da...