Friday, December 1, 2017

Gimana Rasanya?

You know nothing until you, yourself, feel it.


Hai bertemu lagi di awal Desember. Maaf karena udah ngeskip November. Sebenernya November kemarin itu gua ada niatan buat ngisi blog sih. Tapi ternyata konsep tulisannya gak mateng gitu. Gak jadi deh hehe. Kebetulan, hari ini ada sesuatu yang mau gua bahas, jadiii gua putuskan buat ngeblog.

Kenapa di awal gua kasih quote macam itu? jadi begini ceritanya. Tadi siang sampe sore, gua ikut anak-anak PMII buat galang dana di perempatan ITN. Dana tersebut nantinya akan kita salurkan ke saudara-saudara kita di Pacitan yang lagi kena musibah saat ini. Jujur, gua baru kali ini ikutan aksi galang dana macam gitu. Dan sumpah, ternyata itu gak gampang brooo (ya maap, gua baru ngerasain sekarang ini wkwk). Ikut hal-hal semacam ini tuh kayak ngelatih mental diri sendiri. Kira-kira udah seberapa kuat sih lu ngadepin berbagai macam watak orang-orang di luar sana? Apa hati lu udah kebal ketika orang lain gak menghargai lu? Ah it's like something wow gitu. Dari sini gua tau gimana rasanya ditolak. Gimana rasanya dicuekin dan diabaikan. Gimana rasanya disinisin padahal lu udah berusaha masang tampang sok malaikat. Mantap.

Di tengah-tengah durasi lampu merah, gua sama temen-temen nyoba buat sok akrab minta bantuan buat saudara setanah air yang lagi kesusahan. Eeeh malah dapet beberapa prilaku orang yang bikin gaenak hati. Selama ini gua berpikir pekerjaan orang yang lagi galang dana atau yang lagi jadi sales bagi-bagiin brosur dan semacamnya itu ya gampang-gampang aja. Gua gak pernah sampe mikir mereka bakal sakit hati ketika ngeliat balesan dari orang-orang di jalan yang sama sekali gak mereka kenal. Ternyata mereka juga manusia, punya hati. Susah loh ternyata jadi mereka. Kalo dari apa yang gua rasain nih ya, jujur aja awalnya gengsi mau ngelakuin hal semacam itu. Minta-minta ke orang lain yang gak dikenal. Belum lagi kalo tau-tau ketemu temen sendiri. Takut dibully lah, takut dikatain lah, takut direndahkan lah. Jadi, mau gak mau harus menyingkirkan semua perasaan itu. Harus buang malu.

Mereka yang bekerja semacam itu harus membangun kepercayaan diri yang kuat. Keberanian yang kuat. Dan mental yang kuat juga. Tapi sayangnya, gak semua orang bisa ngehargain usaha mereka buat jadi berani. Dengan mudahnya, sikap gak enak yang datang dari beberapa orang menghancurkan semua yang udah mereka bangun di awal. Rasa pede ilang seketika cuma gara-gara tatapan sinis. Keberanian ilang karena diabaikan. Bahkan mental pun ciut ketika ada yang nolak dengan ekspresi paling menyebalkan sedunia. Mending-mending kalau nolaknya pake senyum, ini boro-boro senyum bahkan sekedar natap aja gak mau. Padahal kita juga gak bakal maksa mereka buat menyisihkan harta ke kotak kardus yang kita bawa. Agak ngeri gitu sih menurut gua. Coba bayangin, kita tanpa sengaja nyakitin hati orang yang belum tentu kita bakal ketemu lagi buat minta maaf. Duh jangankan minta maaf, kenal aja engga, tau namanya aja engga. Dan masih mending kalo orangnya pemaaf dan sabar. Lah kalo misal orangnya sakit hati dan dibawa sampe mati gimana? Nauzubillah. Tapi kita harus sadar juga, ada loh orang yang begitu.

Nah untuk kasus kayak begini, slogan "mencegah lebih baik daripada mengobati" ada benernya nih. Gak susah kan mencegah buat gak nyakitin orang lain? Soalnya mengobati hal yang kayak gini itu sulit. Seperti yang udah gua jelasin tadi, jangankan ketemu lagi, kenal juga engga. Dan kita gak ada yang tau, gimana perasaan orang lain atas sikap kita ke mereka. Kalo dari pengalaman gua dan temen-temen tadi, kita gak sakit hati kok setiap ada orang yang nolak dengan cara yang baik. Contohnya, senyum sambil bilang "maaf dulu". Kita masih ngerasa dihargai dengan sikap-sikap macam gitu. Sebenernya menolak itu gak salah kan, yang salah itu caranya. Kenapa nolaknya harus dengan tatapan sinis atau sikap diem seakan-akan kita tak kasat mata? Padahal penolakan dengan senyum pun kita hargai. Ini sih yang kadang kurang diaware sama orang lain. Respect each others. Katanya sesama manusia harus saling menghargai. Apa cuma katanya aja? wkwk.

Maaf kalo kata-kata di atas mengundang emosi. Gak ada maksud kok. Cuma kebawa sisa emosi tadi aja hahaha. Bercanda. Intinya sih, ayo coba kita berkaca pada diri masing-masing. Saling menghargai itu penting. Dalam hal sekecil apapun. Gua yakin setiap orang pasti mau dihargai. Nah untuk dihargai, kita juga harus belajar menghargai orang lain. Jangan cuma mau dihargai doang.
Gua langsung kepikiran aja sih dari kejadian hari ini. Kira-kira gua pernah gak ya tanpa sengaja bikin sakit hati orang-orang semacam itu yang bertemu sekilas di jalan? Karena ya jujur aja, gua jadi agak menyesal setelah tau ternyata gak gampang buat aksi semacam itu dengan resiko yang bisa menggores batin. Gak nyangka aja haha ternyata gua gak akan pernah tau sesuatu sampe gua ngerasain hal itu sendiri.

Sekian.
Sampai bertemu di postingan selanjutnya.

Regards.

Sunday, October 1, 2017

"Hate Speech"

Halo! Kita bertemu lagi.
Bulan baru dan umur baru bikin gua kepingin buat modif template blog ini. Karena gua baru aja menginjak umur 20 tahun, jadi gua pengen gitu tampilan blog jadi sesuai umur atau terlihat lebih dewasa. Hehehe. Ucapin selamat ulang tahun dong!

Akhirnya... setelah dari kemarin gua nyoba-nyoba template instan, gua agak kurang puas gitu. Dan ujung-ujungnya jadi modif sendiri deh. And.. Taraaaa! Jadi deh kayak sekarang ini ehehe. Oh iya judul blognya juga baru loh. Jadi "Secarik Kertas" (lihat laman about kalo mau tau filosofinya).

Okelah, disini gua bukan mau bahas soal penampilan baru blog gua yang sekarang. Tapi soal Hate Speech. Kenapa?
Ehm, jadi begini ceritanya, beberapa hari yang lalu gua nonton video YouTube Creators for Change-nya kak Gitasav yang judulnya The Hate You Give. Dan entah kenapa, gua rasa itu topik yang bagus buat dibahas.
Hate Speech itu semacam komentar jelek atau bad opinion tentang sesuatu. Di video itu, diperlihatkan bagaimana tanggapan 3 orang ketika diminta buat komen orang-orang yang mereka liat lewat sosial media. Dalam artian, mereka gak kenal dan belum pernah ketemu secara langsung. Kak Gita sengaja menyuguhkan profil orang-orang yang terlihat jelek. Orang tatoan, waria, dan cewek hedon. Ketika 3 orang itu ditanya perihal yang diliatnya, mereka semua berkomentar negatif. Bilang kalau mereka ginilah, gitulah.
Kemudian setelah berkomentar, kak Gita mempertemukan langsung ketiga orang tadi dengan orang-orang yang mereka komen. And you know what? mereka speechless coyyy ketika dihadapkan langsung dengan orangnya. Semacam merasa bersalah gitu kali ya. Karna ternyata mereka gak bisa melakukan hal yang sama setelah ketemu langsung. Mereka akhirnya nyoba buat tanya-tanya kenapa penampilan mereka di sosial media kayak gitu. Dan masing-masing dari mereka punya pendapat dan rasionalisasi sendiri atas pilihan yang mereka ambil.

Gua rasa video kak Gita patut untuk diviralkan. Karena video itu emang merepresentasikan keadaan yang terjadi saat ini. Banyak orang yang menggunakan sosial media sebagai media dimana mereka bisa ngomen orang lain sesuka hati, yang menurut gua gak ada faedahnya sama sekali. Kalo dipikir-pikir, it's like... Ngapain sih lu ngurusin hidup orang? Komen-komen hidup orang? Tau apa sih lu tentang mereka yang baru lu liat di sosial media aja? Setiap orang bebas berekspresi dan berapresiasi kan? Mereka juga belum tentu mengupload hal-hal yang sesuai sama mereka di dunia nyata. Sosial media bisa kok dimanipulasi. Bisa jadi kan, yang terlihat baik taunya buruk, dan yang terlihat buruk taunya baik. Kalau kata salah satu orang di video itu sih, "Nobody's 100% honest".

Setelah gua pikir-pikir, kayaknya banyak orang yang salah paham tentang tujuan dibuatnya sosial media. Sosial media itu dibuat untuk menghubungkan antara satu orang dengan orang lain di luar sana, ya kan? Bukan malah jadi tempat untuk menjatuhkan satu sama lain. Ini salah satu hal kecil yang jarang diaware sama orang-orang. Padahal kalau terus-terusan dibiarin, akan ada beberapa orang yang ngerasain dampak buruknya.
Sebenernya, hate speech itu baik ketika sifatnya mengingatkan. Tapi kadang yang bikin itu jadi salah, hate speechnya bersifat memaksa, bersifat pribadi. Maksudnya, orang ngomen orang lain supaya dia sesuai dengan keinginan si komentator. Padahal setiap orang kan berhak memilih. Emang sih, ketika ada yang salah, kita boleh mengingatkan dan mengomentari. Tapi bukan berarti kita bisa maksa mereka buat berubah sesuai apa yang kita komen, karena setiap orang punya pilihan dan kesempatan. Dan kita gak bisa seenaknya aja menyalahkan atau ngejudge alasan seseorang untuk milih jalannya sendiri. Kita harus terus belajar gimana caranya bertoleransi. Karena dalam hidup gak harus melulu menjunjung persamaan, tapi kita juga harus respect terhadap adanya perbedaan.

Itu aja sih tanggapan gua.
Bukan mau jadi sok bijak atau sok tau dan segala macem. Gua juga pernah kok, tanpa sadar, melakukan hate speech. Dan gua sadar kalo itu salah. Jadi jangan berhate-speech setelah baca tanggapan gua yang mungkin agak 'sok' ini. Karena gua cuma mau berpendapat. Masalah kalian setuju atau engga, It's up to you. But I respect for it :)



Monday, August 7, 2017

Tembus Koran Sindo

Mungkin bagi sebagian orang, tulisan tembus di koran merupakan sesuatu yang biasa saja.
Namun bagi sebagian yang lain, itu adalah suatu kebanggaan tersendiri.

saya termasuk golongan yang kedua.
saya suka menulis. kira-kira sudah sejak smp saya suka menulis. dan genre dari tulisan saya kebanyakan adalah sastra.
semenjak memasuki dunia kuliah, saya pernah beberapa kali mengirimkan cerpen saya ke media koran. namun belum rezeki saya, tak ada satupun yang terbit.
setiap media memang mempunyai kriteria tersendiri untuk tulisan yang akan dipilih untuk diterbitkan. dan saya sama sekali tidak memperhatikan itu.
akhirnya, saya mencoba mencari beberapa kriteria tulisan yang bisa tembus di beberapa media koran. dan belajar menyesuaikan tulisan saya dengan kriteria yang ada.

ketika liburan bulan Juni kemarin, saya menemukan sebuah sayembara di galeri Whatsapp saya. dari Poros Mahasiswa Koran Sindo yang mengumumkan tema poros minggu itu. saya sedikit tertarik dengan tema tersebut. akhirnya saya mencoba untuk pertama kalinya membuat opini dan dikirimkan ke media koran.
setelah itu, saya menunggu sekitar seminggu kemudian, namun tak ada hasil.
Tak menyerah sampai disitu, karena masih penasaran, saya pun menulis kembali sebuah opini. Tapi kali ini, saya bermodalkan nekad. Saya mengangkat tema di luar tema poros yang ada pada waktu itu. saya mengangkat sebuah isu yang sedang hangat-hangatnya pada waktu itu (sekitar pertengahan bulan Juni 2017).
setelah yakin dan memenuhi persyaratan, saya mengirimkan opini tersebut ke Poros Mahasiswa Koran Sindo, pada tanggal 21 Juni 2017.
saya hanya pasrah setelahnya. tak berharap tulisan saya akan dimuat.
setelah 3 minggu terlewati, pada tanggal 13 Juli 2017, saya sangat shock ketika membuka salah satu grup Whatsapp saya. salah satu teman saya membagikan hasil screenshot tulisan saya yang dimuat di Koran Sindo.
saya sangat senang melihat berita tersebut. seperti tak percaya, namun itulah yang terjadi. Setelah 3 minggu, akhirnya tulisan saya dimuat.
sebagai seseorang yang gemar menulis, saya merasa bahwa hal tersebut merupakan batu loncatan pertama saya. meski tak seberapa.
sebenarnya saya ingin mencoba lagi, namun saya tak tahu harus melihat tema poros dimana. ada yang bilang, tema bisa dilihat di laman koran sindo online. Tapi tetap saja saya tidak menemukannya.

Ini hanya untuk berbagi pengalaman saja. Barangkali kalian ingin mencoba juga. jangan lupa banyak-banyak mencari tentang kriteria tulisan yang bisa tembus di koran tertentu. Menulis dengan hati, kemudian tawakal.

Semoga Bermanfaat :)
Semangat menulis.
Salam Literasi!

Tulisan pertama saya yang tembus di koran :)
Source : http://koran-sindo.com/page/news/2017-07-13/1/4/Poros_Mahasiswa_Memberantas_Tikus_Berdasi

Tuesday, August 1, 2017

Sore Dusun Cungkal


Di bawah warna jingga langit,
Mereka berkumpul,
Tak memandang usia,
Maupun jenis kelamin.
Yang mereka tahu,
Mereka bahagia.
Dengan mengunggah tawa.
Yang menggelegar terbawa hembusan angin kencang.

Teriakan teriakan kecil sesekali terdengar.
Membuat kekhawatiran sempat bersinggah.
Namun wajah yang dipenuhi sisa sinar mentari itu,
Perlahan membuatnya sirna.

Langkah-langkah mereka terdengar begitu cepat.
Bersatu padu mengiringi kepergian mentari.
Kulit mereka yang terlihat kusam,
Bukan penghalang untuk terus memamerkan deretan gigi.

Diri ini tentram.
Melihat bibit bangsa masih mengenal tawa.
Masih mengenal apa itu bahagia.
Masih mengenal apa itu teman.


F. Riyani

Thursday, July 6, 2017

Jembatan Sewu


Indonesia mempunyai satu ciri khas yang terkenal ketika bulan Ramadhan, yaitu mudik. Dimana para perantau pulang ke daerah asalnya. Berhubung Ibu saya merupakan seorang perantau, jadi saya merupakan salah satu penduduk yang melakukan tradisi “mudik”. Tujuan mudik saya dan keluarga adalah daerahTemanggung, Jawa Tengah. Berhubung saya dan keluarga merupakan pemudik jalur darat dengan kendaraan pribadi, terdapat dua jalur mudik yang dapat ditempuh untuk menuju daerah tersebut. Yaitu jalur selatan dan jalur utara. Selaku sang supir, bapak saya memilih jalur utara karena lebih cepat. Awalnya perjalanan masih lancar-lancar saja. Namun, kemacetan mulai nampak ketika saya dan keluarga memasuki gerbang Tol Cikampek.

Mulai geram, bapak saya memilih untuk memutar balik dan mencari jalur biasa. Jalan demi jalan kami lalui. Hingga sampailah kami di perbatasan Subang-Indramayu. Ada satu hal unik yang menarik perhatian saya ketika melewati daerah tersebut. Subang dan Indramayu dipisahkan oleh suatu jembatan yang disebut Jembatan Sewu (beberapa menyebutnya Jembatan Sapu). Hal yang membuat unik bukan jembatannya, tapi kondisi yang ada disana. Jauh sebelum tiba di jembatan, sudah terlihat beberapa orang berdiri di pinggir jalan. Baik di sebelah kanan maupun kiri. Mereka berdiri dengan memegang sapu lidi bergagang panjang. Saya bertanya-tanya, apa mereka para penyapu jalan? Tapi tidak mungkin menyapu dalam keadaan jalan yang ramai lancar seperti saat itu. Belum saya bertanya, bulik saya merogoh beberapa recehan lalu melemparkannya ke jalan. Orang-orang itu kemudian berebut menyapu koin koin yang dilemparkan.

Kenapa melempar koin? Apa orang-orang itu pengemis? Tanyaku.

Ternyata, terdapat sebuah mitos mengenai jembatan sewu. Konon, orang yang melewatinya dan tidak melemparkan uang akan mendapat bencana diperjalannya. Untuk mengetahui benar atau tidaknya, saya mulai browsing. Dan hal tersebut banyak dibahas dalam ulasan di beberapa website. Bahkan ada pula beberapa mitos mistis tentang jembatan tersebut. Kemudian mitos itu menyebar, hingga sampai ke telinga para pemudik yang melewati Jembatan Sewu. Oleh karenanya, banyak pemudik, yang tanpa disuruh lagi, melemparkan beberapa koin ketika lewat. Mitos yang berkembang di masyarakat tersebut menjadi kesempatan bagi para penduduk setempat untuk mencari sumber kehidupan. Mereka memanfaatkannya sebagai mata pencaharian mereka. Apalagi di musim mudik. Ada ratusan kendaraan yang lewat di jembatan tersebut. Namun yang membuat lucu, deretan orang bergagang sapu itu tak hanya terdapat di jembatannya saja. tapi juga di 500 meter sebelum dan sesudah jembatan.

Saya merasa senang ketika mengetahui salah satu tradisi unik yang ada di belahan negeri ini. Walaupun kesannya tidak begitu penting, ada satu hal yang membuat saya tersadarkan akan sesuatu. Ketika sebuah tradisi sudah melekat di suatu daerah, ia akan berkembang menjadi sebuah budaya. Meskipun kita sebagai orang yang berasal dari daerah lain, menghargai adalah sesuatu yang patut dilakukan. Bukan masalah mitosnya benar atau tidak, bukan masalah percaya mitos atau tidak. Tapi masalah menjaga budaya dan melestarikannya. Biar bagaimanapun, para pendatang harus menghargai budaya yang ada. Bukan meremehkan atau malah menertawainya. Toh, melemparkan koin di jembatan sapu bisa pula diniatkan sebagai sebuah ibadah. Budaya atau bukan, tradisi dan mitos tersebut mangandung nilai bagi setiap mata yang memandangnya. Meski kadang kali mitos telah disalahgunakan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Saturday, April 15, 2017

SKIP

Hi!
Sorry for delaying the next post.
I can't finish it for this while.
I need more time. 
So sorry...

my feeling was in trouble. 
something is under control.
I have something to be fixed!

If I may tell you,
One time, I think that it can't be fixed easily.
but then, I realize that it was wrong.
I just make it hard by my own.
It's like I've taken a hard and a wrong step.

Yet however, 
I know, the step that I took was the best one. 
So, let me continue my step. 
keep walking above my heart.
step on it, until I don't feel the pain anymore.

Sunday, March 26, 2017

Cinta, Waktu, dan Kematian

[Tulisan ini terinspirasi dari film berjudul Collateral Beauty, 2016]

Tentang cinta, waktu dan kematian.
Tiga hal paling berpengaruh dalam hidup manusia.

Howard (tokoh utama dalam film tersebut) mengatakan bahwa pada akhirnya setiap manusia pasti menginginkan cinta, berharap punya banyak waktu, dan takut mati.
Namun ternyata, kepergian anaknya membuat ia merasa dikhianati oleh tiga hal tersebut. Ia kemudian menuliskan surat yang ditunjukkan pada ketiganya.

Untuk Waktu,
Mereka berkata kau akan menyembuhkan semua luka, tapi mereka tak menceritakan bahwa kau menghancurkan semua hal indah di dunia. Bagaimana kau mengubah semua keindahan menjadi abu? Kau tak ada bedanya dengan sepotong kayu bagiku. Kau adalah jaringan rusak yang tak dapat terurai. Kau bukanlah apa-apa.

Untuk Kematian,
Kau berpergian dengan sangat misterius. Menimbulkan rasa sakit, menginspirasi rasa takut. Tapi bagiku kau adalah macan kertas. Kau adalah manajemen kelas menengah yang menyedihkan dan tak punya kuasa. Kau bahkan tak memiliki izin untuk melakukan jual-beli sederhana.

Untuk Cinta,
Selamat tinggal.

Ia depresi, dan berusaha untuk hidup tanpa memperdulikan tiga hal tersebut.

***

Cinta, waktu dan kematian.
Tiga hal yang sering kali disalahkan, dibenci, disalah-artikan, disia-siakan, dan disepelekan oleh manusia. Tidak bisa disangkal memang, bahwa manusia dipisahkan oleh kematian, dilupakan karena waktu, dan dikhianati sebab cinta.

Namun jangan harap kau bisa hidup tanpa ketiganya.
Karena cinta, waktu, dan kematian adalah unsur dari kehidupan.
Manusia lahir karena cinta, tumbuh karena waktu, dan berakhir karena kematian.

Jadi, apa kau masih ingin memungkiri keberadaan ketiganya? Atau mungkin kau tak peduli dengan ketiganya?
Jangan konyol!

Kau merasakan cinta.
Kau beriringan dengan waktu.
Kau berujung pada kematian.


Itulah hakikat kehidupan. 
Kau hanya perlu menghargai ketiganya, 
Dan Tuhan akan membiarkanmu melihat keindahan cinta, waktu, dan bahkan kematian.

Selamat malam,

F. Riyani

Sunday, March 12, 2017

Malam di Yogyakarta

Malioboro memang tak pernah sepi. Keadaan ini persis seperti yang terakhir kali kulihat dua tahun silam. Keramaiannya tak berkurang. Seakan-akan setiap orang sengaja mengunjungi tempat ini setiap malam. Tentu saja dengan tujuan yang berbeda-beda. Mungkin banyak di antara mereka yang kemari untuk membangkitkan kenangan.atau mungkin beberapa ingin mengulang momen indah bersama orang terkasih. Atau barangkali sisanya ingin menghapus jejak langkah di masa lalu. Seperti aku.

Setiap langkah yang kuambil diikuti oleh hembusan angin.  Bersatu padu dengan suara para pedagang yang sedang merayu. Mereka mengundang para pejalan kaki untuk mampir ke kedai atau toko mereka. Beberapa tergoda dengan rayuan itu, kemudian menyisihkan waktu untuk melihat dan membeli. Sedangkan sisanya, tidak goyah dan terus melangkah tanpa tujuan. Seperti aku.

Aku tak menghiraukan apa yang ada di sepanjang jalan. Tak pula menggiring kemana aku akan pergi. Bukan lagi pikiran yang menuntun kaki ini bergerak, namun nurani. Hingga tak sadar, langkahku telah melenyapkan suara para pedagang yang terkenal merayu itu. Berganti dengan suara lintasan kendaraan yang berlalu lalang dari arah berlawanan. Mataku masih menangkap beberapa pedagang kaki lima yang kini jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Mereka menepi pada pinggiran tembok pagar yang membatasi wilayah area dilarang masuk. Disitulah langkahku terhenti.

Kupandangi apa yang ada didepanku saat ini. Sebuah Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berkilau dengan cahaya lampu. Membuatnya mencolok diantara gelapnya langit malam. Aku melangkah lagi untuk lebih dekat dengan pagar pembatas. Monumen ini masih belum berubah. Bentuknya masih sama seperti dua tahun yang lalu.

“Raya.” Suara yang tak asing menyebut namaku. Kualihkan pandanganku pada sumber suara itu. seorang lelaki bertubuh tinggi , tengah berdiri 10 meter dari hadapanku. Ia melambaikan tangan kanannya dengan wajah yang ceria. Aku tersenyum. Ternyata tak berubah, aku masih saja tersenyum tiap kali melihat wajahnya.

“Mas Latif.” Suaraku terdengar parau. Dari tempatku berdiri sekarang, aku bisa melihat tubuhku berlari menuju lelaki itu, menghamburkan diri dalam pelukannya yang hangat. Melepas sesuatu yang oleh banyak orang disebut sebagai ‘rindu’.

Aku menghampiri keduanya, menatap diriku yang rapuh dalam pelukan Mas Latif. Hatiku tersiksa dan terbuai dalam waktu yang bersamaan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Mas Latif pada diriku. Ia perlahan melepas pelukannya yang begitu hangat. Memaksa menjauhkan tubuhku agar wajahku bisa ditatapnya.

“Aku tak pernah baik-baik saja selama masih memendam rindu.” Jawabku padanya. Kedua matanya menatapku dalam-dalam. Ia tersenyum, mewakilinya berkata 'aku juga rindu'. Ia merefleksikan perasaannya pada ekspresi yang ia tunjukkan. Sekarang ini, aku bisa menyaksikan dua senyum penuh arti. Dua senyum yang melambangkan perasaan terdalam dari masing-masing hati. Ya, aku bisa melihatnya.

“Terima kasih sudah menungguku, Raya.” Ucap Mas Latif. Kemudian ia menawarkan diri untuk mengantarku pulang ke rumah karena hari sudah malam. Pertemuan singkat tersebut setidaknya telah membayar rindu yang sudah cukup lama dipendam. Mereka mulai menjauh dari hadapanku. Langkah keduanya sejajar dan beriringan. Dunia seakan tak berisi apa-apa, kecuali mereka berdua. Matanya saling bertautan, menatap wajah satu sama lain. Membicarakan topik sederhana yang bisa menerbitkan senyum indah di wajah keduanya. Sesekali mereka tertunduk malu, mungkin karena sadar bahwa wajah mereka tengah merona. Hingga bayangan indah itu semakin jauh dari pandanganku. Obrolan mereka sudah tak sampai lagi kudengar. Mereka menghilang.

Itu diriku dan Mas Latif dua tahun silam. Tahun dimana kami masih bersama, menghabiskan waktu dengan kasih dan rindu, di tempat ini. Sebelum akhirnya Mas Latif memilih mundur dan pergi. Meghapus semua kenangan yang ada diantara kami ketika aku masih bisa mengingat semuanya dengan jelas. Perasaan itu, senyuman itu, tatapan itu, pelukan itu. Semua tentang Mas Latif.

Malam ini, di Yogyakarta, aku berhasil menghapus satu lagi jejak kaki di masa lalu. Menggantinya dengan langkah yang baru. Aku tidak merasa ini tidak adil. Bukan salah Mas Latif jika aku masih terperangkap oleh perasaan yang sama seperti dua tahun lalu. Dan bukan salahku juga karena tidak bisa menghapusnya secepat yang Mas Latif lakukan. Ini semua tentang waktu. Mungkin aku butuh lebih banyak waktu untuk menghapus itu semua.

Tapi sebelum itu terjadi, Bolehkah sekali ini aku mengatakan kalimat itu lagi?


Mas Latif, aku rindu.

Oleh : F.Riyani

Monday, February 20, 2017

Sajak Malam

Selamat Malam.

Sudah lama tidak berkunjung.
Aku hanya sekedar mampir untuk mengisi kekosongan.
Dengan memberi sajak.

Kalian suka sajak?
Jika kalian suka, akupun sama.
Bagi seseorang yang tertarik dengan sajak, ia pasti bisa melihat sebuah keindahan dalam rentetan kata yang tersusun dalam sajak.

Aku bukan seseorang yang mahir dalam bersajak. Jadi, aku meminta salah satu temanku untuk membuat sajak yang kemudian kuhidangkan disini.
Authornya bernama Della. Seorang mahasiswi jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Ia cantik, dan juga teman yang baik. Sajak-sajak yang dibuatnya tak pernah tidak bagus. Jadilah aku mamintanya untuk membuat satu sajak yang bisa ku posting blog yang sudah penuh dengan jaring laba-laba ini.
Bacalah, barangkali kau suka :)


Tanpa Payung
Oleh : F N S M

Sebagian nada hujan sumbang
Disambar petir, menghilang
Ia menghibur diri dengan sebuah tembang
Agar tak semakin meradang

Lalu, sebagian kisah menggenang
Dengan airnya yang tenang
Namun sebagian menyisakan lubang
Yang kisahnya tak gamblang

Jejak kakinya harus tau kemana harus melepas tanda.


Bagaimana? Indah bukan?
Oh ya, kalau kalian punya akun instagram, jangan lupa melirik profilnya : @fnsm.del
Kalau kalian tertarik, boleh difollow. 
Kalau kalian suka, boleh didm.
Kalau kalian baik, boleh difollow, dilike, dan dikomen postingannya.
Terima Kasih.

Salam,
Penyajak Indonesia.

New Normal, Tetap Update Covid-19 dengan Kumparan :)

"Hal yang paling ditunggu manusia adalah kabar." Begitu kata dosen saya saat tengah mengampu mata kuliah Jurnalistik. Tidak da...